Arsitektur Batak Kontemporer

Kuliah Tamu AR6112 Budaya Lokal dalam Perancangan Arsitektur
Pembicara: Jimmy Purba
Kamis, 9 Oktober 2014, Ruang Kuliah S-2 Arsitektur ITB, pukul 9.00-12.00

JP gbr u website

“Lebih sekadar bentuk, Arsitektur Batak kontemporer hadir untuk menyampaikan pesan, supaya komunitas Batak masa kini lebih mencintai kampung halamannya”

Ada tiga komponen utama dalam sebuah kebudayaan, yaitu: ide/ gagasan/ norma-norma, aktivitas/ perilaku, dan produk fisik/ artefak. Artefak-artefak penting dalam kebudayaan Batak adalah Huta (kampung), Ulos (kain), Gorga (ukir-ukiran), dan Tortor (tarian). Arsitektur Batak dilihat sebagai artefak yang untuk aktivitas masyarakat yang merepresentasikan ide-ide dan norma-norma dalam budaya Batak.

Dalam merancang bangunan untuk komunitas Batak, hal yang paling sulit adalah bagaimana memenangkan ide dalam proses pengambilan keputusan secara komunal. Menjadikan hasil desain sebagai sebuah keputusan bersama menjadi tantangan tersendiri. Kekuatan arsitek acapkali ditentukan oleh pengetahuan tentang Budaya Batak, yang acapkali tidak dimiliki oleh anggota komunitas bahkan para tetua sekalipun. Pada proyek-proyek sosial (non-profit), arsitek mempunyai kewenangan lebih tinggi dalam berargumentasi dan pengambilan keputusan dalam desain arsitektur, dan ini memberikan kepuasan tersendiri dalam berkarya.

Inovasi yang dilakukan antara lain dengan menciptakan bentuk-bentuk baru, yang lebih berorientasi masa kini, dengan tetap menyediakan tempat-tempat untuk aktivitas komunitas yang tetap merepresentasikan norma-norma budaya Batak. Tiplogi baru Gereja Batak, misalnya, dicobakan dengan rancangan bangunan gereja yang lebih terbuka dan menyatu dengan halaman di sekitarnya. Keterbukaan ini ternyata mampu menyediakan ruang-ruang untuk berkumpul komunitas, dan merepresentasikan konsep “Alaman” dalam arsitektur Batak masa lalu.

Lebih dari sekadar bentuk, Arsitektur Batak kontemporer hadir dengan menyediakan ruang-ruang untuk berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil. Ruang-ruang ini bisa dimanfaatkan oleh komunitas Batak untuk melanjutkan tradisi “martutur”, tradisi untuk saling menanyakan silsilah saat pertama kali orang Batak bertemu. Arsitektur bisa menjadi pembawa pesan bagi komunitas Batak masa kini untuk bisa membangun kecintaan mereka terhadap kampung halamannya.

Materi kuliah: Jimmy Purba – Arsitektur Batak Kontemporer (upload)

Tinjauan Pasar dalam Inovasi Berbasis Budaya Lokal dalam Bisnis Properti

Kuliah Tamu AR6112 Budaya Lokal dalam Perancangan Arsitektur
Pembicara: Ryan Brasali, General Manager Kotabaru Parahyangan
Senin, 6 Oktober 2014, Ruang Kuliah S-2 Arsitektur ITB, pukul 13.30-15.30

RBA gbr u website

“Property is a Community Development”

Ketika awal dikembangkan tahun 2000, Kotabaru Parahyangan memang membidik warga kota Bandung sebagai pangsa pasar utamanya. Atas dasar inilah, representasi budaya\ lokal yang berasosiasi dengan Bandung dipilih sebagai strategi branding mereka. Istilah-istilah yang berasosiasi dengan budaya Sunda, seperti Parahyangan, Wangsakerta, Pitaloka, atau Bale Pare dipilih untuk memperkuat kedekatan kawasan ini dengan kota Bandung. Aneka event berbasis budaya setempat banyak diselenggarakan secara berkala, agar bisa mengundang orang untuk hadir dan mendekatkan secara psikologis jarak antara Bandung dan Kotabaru Parahyangan. Diharapkan sebagian orang akan memilih tinggal di kawasan ini dengan tetap bisa beraktivitas atau bekerja di kota Bandung.

Penelusuran perkembangan sejarah membawa penemuan genius loci kota Bandung ini di masa modern, yaitu kota pendidikan. Genius loci ini yang menjadikan Kotabaru Parahyangan dikembangkan sebagai kota baru berwawasan pendidikan. Implikasinya, karakter kota ini dibangun dengan banyak memasukkan aneka program yang mendukung aktivitas pendidikan, seperti museum ilmu pengetahuan, sekolah, dan berbagai event untuk anak-anak sekolah.

Mengadopsi konsep New Wave Marketing, pengembang mentransformasikan strategi, taktik, dan nilai dalam pemasaran: dari sekadar segmentation, positioning, differentation, dan branding, menjadi communitization, clarifying, coding, dan character. Konsep New Wave Marketing menjadikan pasar untuk membangun komunitas, dan komunitas yang terbangun sebagai pasar. Dengan ini maka pengembang Kotabaru Parahyangan menjadikan community based development sebagai strategi pengembangan bisnis properti mereka. Pengembang menjalankan aneka kegiatan komunitas, dengan maksud supaya berbagai pihak yang berkepentingan dengan kawasan ini, yaitu penghuni, pekerja, tamu, penyewa, masyarakat sekitar, dan investor mempunyai rasa memiliki (sense of belonging) terhadap Kotabaru Parahyangan. Dengan pendekatan ini, pengembang menjadikan siapa pun yang berkepentingan adalah bagian dari Kotabaru Parahyangan.

Materi Presentasi RBA – Inovasi Budaya Lokal Properti