Ketenangan dan Kenyamanan pada Dapur Eyang Resto & Café, Bandung

15213018 | Jovita Liyonis

Dapur Eyang Resto & Café berlokasi di jalan Tubagus Ismail Raya no.11, Bandung, Jawa Barat. Tempat makan yang memiliki lahan luas ke belakang ini, dibatasi oleh pagar yang rimbun dengan berbagai tanaman pada bagian depannya. Untuk entrance, terdapat pintu pagar kecil yang menuju ke tempat makan semi outdoor dan pintu pagar besar untuk keluar-masuknya kendaraan menuju parkiran. Bangunannya sendiri tidak terlihat langsung dari luar karena terdapat tempat makan semi outdoor  pada bagian depan. Lalu terdapat taman yang memisahkan tempat makan indoor dengan tempat makan semi outdoor tersebut.

Tempat Makan Semi-Outdoor Dapur Eyang Resto & Cafe

Dapur Eyang yang berseberang dengan Wisma Bank Indonesia ini juga menyediakan sarana Guest House dengan bangunan terpisah. Guest House-nya sendiri berada pada bagian paling belakang dari lahan. Terdapat halaman belakang yang memisahkan bangunan Resto & Café dengan bangunan Guest House tersebut. Untuk masalah keamanan, Dapur Eyang ini memiliki pos satpam di bagian entrance kendaraan sehingga keamanan akan tetap terjaga.

Tampak Belakang Dapur Eyang Resto & Cafe
Tampak Belakang Dapur Eyang Resto & Cafe

Dari sekian banyak Resto & Café yang memiliki konsep rumah, Dapur Eyang berhasil memberikan suasana yang nyaman terhadap pengunjungnya seakan berada di rumah kakek-nenek dengan halaman dan taman yang luas. Pada bagian semi outdoor, tempat makan ini menawarkan dua pilihan tempat duduk bagi pengunjungnya, yaitu di kursi dan lesehan, dengan pemandangan ke arah pelataran taman yang asri. Sedangkan untuk tempat makan indoor, bangunan resto ini memberikan suasana klasik sederhana dengan sentuhan ornamen dan foto jaman dulu yang semakin mendukung konsep rumah seorang eyang, ditambah pemandangan ke arah halaman belakang bangunan.

Area Lesehan pada Tempat makan Semi-Outdoor Dapur Eyang
Area Lesehan pada Tempat makan Semi-Outdoor Dapur Eyang
Tempat Makan Indoor Dapur Eyang
Tempat Makan Indoor Dapur Eyang

Bukan café namanya jika tidak menawarkan menu kopi, tentunya Dapur Eyang Resto & Café ini memiliki coffee corner dimana terdapat bar kopi dan minuman lainnya dengan konsep desain yang masih selaras. Di dekat sudutnya terdapat kursi ayun berkanopi yang menjadi spot anak-anak atau keluarga untuk sekedar bermain atau berfoto ria. Untuk masalah kulinernya pun tak perlu diragukan, Dapur Eyang menyuguhkan kuliner yang ramah di dompet dengan menu lengkap mulai dari appetizer, main course, sampai dessert. Pilihannya pun dari berbagai macam jenis, seperti khas Indonesia, Asia, hingga Barat sekalipun. Kisaran harga untuk makanan sekitar 15-50 ribu rupiah dan untuk minuman 5-20 ribu rupiah, tanpa adanya tambahan pajak ataupun biaya servis. Terlebih lagi, Dapur Eyang ini memberikan fasilitas wi-fi­ bagi para pengunjungnya.

Coffee Corner Dapur Eyang
Coffee Corner Dapur Eyang
Kursi Ayun Berkanopi
Kursi Ayun Berkanopi

Baik pada semi-outdoor dan indoor, Dapur Eyang dominan menggunakan material kayu, seperti pada meja, kursi, bar, kolom, railing, lantai, finishing dinding dll. Alhasil, suasana yang akan didapat oleh pengunjungnya adalah rasa hangat dan dekat dengan alam. Ditambah dengan pemilihan ubin dan furniture yang sangat sederhana, Dapur Eyang benar-benar memberikan perasaan homey. Taman yang berada di tengah area juga menjadi faktor penting dalam terciptanya suasana yang asri dan menyejukkan. Tak heran tempat ini memiliki banyak pengunjung, mulai dari keluarga yang menjadikan tempat ini untuk berkumpul bersama sampai para pelajar yang menjadikan tempat ini untuk belajar ataupun mengerjakan tugas karena ketenangan dan kenyamanan yang tercipta.

Taman di Dapur Eyang
Taman di Dapur Eyang

Kenyamanan Lobby Elisabeth

Ruang lobby ini dapat ditemukan di rumah sakit St.borromeus pada gedung elisabeth. Gedung elisabeth merupakan gedung yang paling baru dibandingkan dengan gedung lain yang ada di rumah sakit borromeus. Dengan begitu, lobby yang ada merupakan lobby yang paling baru di rumah sakit ini. Lobby ini juga menjadi pintu utama pada rumah sakit ini dan juga menjadi impresi utama bagi rumah sakit.

IMG_20160512_081147

Lobby rumah sakit ini cukup luas dan dapat menampung orang-orang yang datang untuk berobat. Pada bagian pintu masuk terlihat bahwa adanya void yang menerus sampai lantai 2. Lalu kaca yang besar pada pintu masuk dan sekitarnya membuat cahaya dapat memenuhi ruang lobby. Ruang tunggu yang cukup besar. Dengan adanya beberapa kursi empuk yang disediakan lebih dari 20 orang, maka pengunjung/calon pasien dapat menunggu dengan sabar. Lalu terdapatnya ruang makan pada bagian utara lobby yang membuat pengunjung dapat menunggu sambil makan atau minum. Ruang makan ini juga disertai dengan beberapa penjual makanan yang enak dengan harga yang cukup terjangkau. Bahkan ada beberapa pengunjung yang datang untuk makan/minum, bukan untuk berobat. Pada bagian timur  lobby terdapat counter untuk pendaftaran pasien. Tersedia lebih dari 10 counter dan selalu siap melayani pada setiap counternya.

Ruang tunggu merupakan tempat dimana calon pasien menunggu untuk mendaftar ataupun para teman atau relasi pasien yang menunggu kabar dari pasien yang telah ada di rumah sakit. Dengan kursi kulit sintetis  berwarna putih, dinding berwarna putih, pencahayaan berwarna putih dan juga ruang antar kursi yang cukup luas, memaksimalkan kenyamanan yang didapatkan.

Ruang makan lobby ini mempunyai kesan yang berbeda dari ruang tunggu. Runag makan didominasi oleh warna kayu dan elemen kayu. Pencahayaan berwarna kuning hangat dan juga terdapatnya 2 macam kursi, kursi makan dan kursi sofa. Lalu pembatas antar ruang makan dan sirkulasi terdapat pagar kayu dan juga kaca. Ini sangat memperjelas perbedaan ruang makan dan ruang yang lainnya.

IMG_20160512_081247

Bagian counter mempunyai aksen yang berbeda dari ruang tunggu. Seperti yang telah dideskripsikan bahwa ruang tunggu didominasi oleh warna putih, sedangkan bagian counter mempunyai warna coklat kayu yang gelap. Begitupun dengan meja counter yang ada, langit-langitnya, dinding di belakang counter, semuanya dibuat bernuansa coklap kayu yang gelap agar menjadi pusat perhatian di lobby ini.

Pintu masuk pada lobby ini memberi kesan rumah sakit yang luas dan ramah menerima pasien atau tamu. Void yang telah dijelaskan sebelumnya memberi kesan luas dan megah, namun terdpat hiasan gantungan yang menarik pada void ini. Ini memberi batasan agar bagi yang melihat tidak merasa kecil ataupun tertekan dikarenakan langit-langit yang tinggi. Dengan begitu memasuki ruang lobby akan memberikan mood yang menenangkan seseorang bahkan membuat orang sakit tidak merasa sakit. Karena mood yang dihasilkan bukan seperti datang ke rumah sakit, melain kan seperti datang ke tempat yang menenangkan dan juga tidak menekan pasien bahwa ini rumah sakit. Ini pun membuat orang makin banyak datang ke rumah sakit karena memberi keyakinan bahwa saya akan sembuh.

IMG_20160512_081140

Menuju ruang tunggu, terdapatnya kursi kulit sintetis berwarna putih gading. Sesuai dengan namanya yaitu ruang tunggu, ternyata kenyamanan pada ruangan ini dimaksimalkan. Kursi kulit ini atau lebih cocok disebut sofa kecil dimana diperuntukkan 1 orang, membuat kenyamanan bertambah, orang yang menunggu dibuat sabar dengan adanya kursi ini. Lalu pencahayaan dari bukaan yang besar dari luar memaksimalkan cahaya matahari masuk dari

IMG_20160512_081426IMG_20160512_081251IMG_20160512_081207

luar, maka ini juga memberi kehangatan cahaya alami dan menghubungkan ruang tunggu ini dengan suasana  taman yang terdapat pada depan pintu masuk. Ini memberi kesan tenang dan nyaman pada saat menunggu. Lalu pencahayaan alami berwarna putih hangat dan distribusi cahaya yang merata membantu orang lebih nyaman dan sabar menunggu.

Pada ruang makan suasana yang didapatkan sangat berbeda, dikarenakan warna kayu dan lampu kuning membuat semua terlihat berbeda dan hangat pada bagian ruang makan tersebut. Lalu dengan adanya pagar dan warna keramik lantai yang berbeda juga memberikan privasi dan batasan pada ruang makan tersebut. Dan ini juga memisahkan daerah untuk makan dan menunggu. Lalu dengan furnitur yang berbeda juga yang didominasi oleh warna kayu membuat lebih nyaman pada ruang tersebut. Begitupun dengan pagar yang terbuat dari kayu dan keramik yang berwarna coklat

.       IMG_20160512_081322IMG_20160512_081341   IMG_20160512_081355

Omah Sinten: Perpaduan Khas Timur dan Barat di Kota Solo

15214072 | MAS

Bukan tak mungkin jika arsitektur jawa khas timur dipadukan dengan ornamen-ornamen klasik khas barat. Anda akan menemukannya jika datang ke kawasan Ngarsopuro, tepatnya di depan Keraton Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah. Foto diatas merupakan suasana di tempat tersebut pada saat malam hari. Bangunan yang disebut “Omah Sinten” ini terdiri dari hotel dan restoran yang sangat unik. Namun, kali ini saya hanya akan membahas mengenai Restoran Omah Sinten yang saya kunjungi ketika berlibur pada tahun lalu.

Bangunan ini terlihat sangat tradisional dari bagian luar, namun lain cerita dengan interiornya. Hal tersebut merupakan salah satu hal yang membedakannya dari bangunan lain di Kota Solo yang tampak sangat tradisional. Tak seperti bangunan tradisional  jawa pada umumnya, Omah Sinten memberi celah bagi ornamen bergaya barat untuk mengambil bagian pada interior ruang indoor-nya.  Seperti yang dapat dilihat pada gambar diatas, ornamen khas jawa seolah membingkai susunan pigura bergaya barat. Tak disangka, ternyata kombinasi ornamen khas timur dan barat ini cocok untuk dipadukan dan terlihat menarik.

Citra lewat pengalaman ruang

Ketika memasuki tempat ini, saya naik ke sebuah bangunan pendopo yang luas. Pendopo ini digunakan sebagai tempat makan outdoor bagi pengunjung Omah Sinten. Tak jauh dari pendopo, terdapat dapur terbuka, dimana pengunjung dapat melihat koki yang sedang memasak. Karena ingin bersantap di ruang indoor, saya pun turun dari pendopo, melewati kolam ikan serta tanaman yang mempercantik restoran ini. Ketika masuk ke ruang indoor, barulah saya melihat ornamen tradisional jawa serta motif batik di bagian atas ruang tersebut, yang dipadukan dengan susunan pigura bergaya barat, maupun koleksi teko teh yang tertata apik di sudut ruangan. Pengalaman ruang di restoran Omah Sinten ini seakan alur cerita dalam sebuah film yang memberi citra tersendiri.

Gambar 1. Detail ornamen pendopo.Foto: dokumentasi pribadi.

Gambar 1. Detail ornamen pendopo. Foto: dokumentasi pribadi.

Processed with VSCOcam with c1 preset

 Gambar 2. Motif batik di bagian atas ruang indoor. Foto: dokumentasi pribadi.

Dengan citra yang ditunjukkannya, bangunan ini berhasil mengubah perspektif saya yang cenderung menyukai arsitektur modern dibanding tradisional. Sebelumnya, saya berpikir bahwa arsitektur tradisional patut dilestarikan karena antik dan merupakan warisan budaya, tetapi bukanlah sesuatu yang sangat menonjol dari segi estetika. Namun, pada restoran ini, saya melihat arsitektur tradisional yang memang indah dan menjadi tempat yang menyenangkan untuk beraktivitas.

Mood yang berbeda dari keseharian

Mood merupakan sesuatu yang dapat menentukan suka atau tidaknya seseorang terhadap suatu tempat. Adanya mood yang berbeda dari keseharian pasti merupakan sesuatu yang diharapkan pengunjung ketika bersantap di luar rumah. Suasana di restoran ini dapat mengubah mood pengunjung yang memiliki rutinitas ditengah keramaian kota, apalagi jika dikunjungi pada malam hari. Mungkin sebelumnya pengunjung menghadapi kemacetan yang mulai ada seiring semakin ramainya Kota Solo. Namun ketika memasuki restoran ini, mood pengunjung berubah menjadi lebih santai, rileks, dan ceria.

Menurut saya, penggunaan unsur alami, pemilihan material, dan pencahayaan yang baik merupakan  aspek yang memengaruhi mood pengunjung di restoran ini.  Adanya tanaman dan kolam ikan yang merupakan unsur alami membuat rileks orang yang melihatnya. Penggunaan material kayu khas arsitektur tradisional membuat pengunjung santai karena seakan berada di sebuah rumah.  Warna kayu semakin terkesan hangat ketika dipadukan dengan pencahayaan menggunakan lampu kuning. Pencahayaan tersebut juga digunakan untuk menonjolkan keindahan susunan pigura-pigura dan koleksi teko teh di sudut ruangan.  Lalu, mengapa ruang ini dapat membuat orang menjadi ceria? Tentu saja karena ornamen-ornamen pada ruang ini merupakan spot yang tepat sebagai tempat selfie atau candid, sesuatu yang di masa ini biasa dilakukan ketika mengunjungi tempat yang menarik.

Processed with VSCOcam

   Gambar 3. Pigura di tengah ruangan. Foto: dokumentasi pribadi.

Processed with VSCOcam

Gambar 4. Koleksi teko teh di sudut ruang. Foto: dokumentasi pribadi.

Betah, tak ingin pulang

Tak hanya mengubah mood seseorang, ruang ini juga membuat pengunjungnya merasa nyaman. Pengunjung dapat memilih untuk duduk di kursi kayu atau duduk di sofa, sesuai dengan kenyamanan yang diinginkan. Ruang yang ada sangat enak untuk dijadikan tempat mengobrol bersama keluarga, maupun teman.  Kesan hangat pada ruang ­­­­membuat pembicaraan terasa lebih akrab. Kebersamaan pun semakin terasa menyenangkan ketika dilakukan sembari menikmati makanan tradisional jawa racikan Omah Sinten yang disajikan dengan cara yang unik.

Gambar 6. Detail pigura. Foto: dokumentasi pribadi.

   Gambar 5. Makanan tradisional khas jawa.  Foto: dokumentasi pribadi.

Gambar 6. Detail pigura. Foto: dokumentasi pribadi.

   Gambar 6. Detail pigura.  Foto: dokumentasi pribadi.

Kenyamanan tidak hanya terasa pada meja makan, namun terasa pada keseluruhan ruang. Susunan pigura khas barat pada ruangan tentu memicu rasa ingin tahu pengunjung untuk melihatnya. Saya sendiri tak ingin pergi begitu saja setelah selesai makan, namun berkeliling dahulu melihat pigura-pigura tersebut,  seperti sedang melihat pameran saja.  Banyaknya objek yang menarik untuk dilihat, dan suasana yang begitu menyenangkan membuat saya pun seolah tak ingin pulang karena betah berlama-lama menghabiskan waktu di tempat ini.