Beragam Emosi dan Nostalgia Masa SMA di Lapangan Belakang Sekolah

Tidak terasa sudah 3 tahun yang lalu saya lulus dari SMA, yakni SMAN 8 Bandung. Lokasinya berada di daerah Buah Batu, cukup dekat dengan rumah saya hingga dapat ditempuh dengan hanya berjalan kaki. SMA saya memiliki lahan yang cukup luas dibandingkan dengan SMA-SMA negeri di Bandung lainnya, yakni seluas 20.200 m². Kesan saya sewaktu pertama kali masuk ke dalam area sekolah, rasanya seperti masuk ke dalam sebuah perumahan, dengan jalan-jalan kecil serta beberapa lapangan yang tersebar di bagian sekolah. Spot di dalam sekolah yang paling memberikan kesan untuk saya ialah lapangan belakangnya, atau dikenal juga dengan sebutan Lapangan Jurasik oleh para siswanya.

Lapangan Jurasik terletak di area kelas 10, yakni di bagian ujung belakang sekolah. Merupakan lapangan outdoor terluas jika dibandingkan dengan 2 lapangan lainnya. Area Lapangan Jurasik terdiri dari lapangan perkerasan untuk bermain basket/futsal serta lapangan rumput dan taman. Tembok di pinggir lapangan, yang merupakan tembok pembatas sekolah dengan lingkungan sekitarnya diisi oleh gambar-gambar mural para siswa. Lapangan tersebut dikelilingi oleh koridor-koridor kelas yang menjadikannya sebagai focal point. Lapangan Jurasik merupakan tempat yang paling sering dipakai untuk acara kegiatan siswa pada saat itu, misalnya pensi, pekan olahraga, liga futsal, serta mural. Itulah salah satu alasan mengapa tempat ini banyak memberi kesan untuk saya.

 

Tembok di Pinggir Lapangan yang Diisi oleh Gambar Mural Para Siswa

 

Berbagai emosi telah saya alami di Lapangan Jurasik. Senang, terharu, sedih, semuanya ada. Contohnya ketika semasa SMA, saya aktif mengikuti kegiatan porak dan liga futsal, baik itu sebagai pemain futsal putri maupun sebagai penonton ketika tim putra kelas saya bertanding. Lapangan itu mengingatkan saya akan perasaan bagaimana rasanya bertanding, rasanya didukung oleh teman-teman sekelas, rasanya percaya kepada teman satu tim, rasanya gugup ketika akan menendang bola untuk penalti ataupun menonton tim putra kelas saya bertanding, rasanya sedih ketika kalah ataupun melihat teman cidera, dan masih banyak lagi. Saya masih dapat merasakan kembali emosi pada saat itu, seperti bagaimana kentalnya aura semangat dan kekeluargaan. Suara peluit, sorakan penonton dan pemain, hingga suara bola ditendang pun masih dengan jelas terekam di ingatan saya.

 

Foto Ketika Akan Bersalaman Sebelum Bertanding Sewaktu SMA

 

Foto Pertandingan Futsal Sewaktu SMA

 

Ketika istirahat, sambil menikmati minuman dingin dan bekal makanan, saya sering duduk-duduk di koridor kelas sambil memperhatikan orang-orang yang sedang bermain di Lapangan Jurasik. Lapangan ini memang tak jarang kosong sewaktu istirahat. Para siswa putra senang sekali menghabiskan jam istirahatnya untuk bermain futsal tanpa takut berkeringat ketika kembali masuk kelas. Sesekali saya terbawa masuk ke dalam dunia mereka walaupun hanya menonton. Kadang mereka bermain sambil tertawa-tawa karena bukan pertandingan serius. Tak jarang ada bola yang terlalu tinggi hingga melewati tembok antara sekolah dan rumah warga sehingga harus diambil menggunakan tangga. Entah mengapa rasanya kesan yang diciptakan saat itu sangat ceria dan menyenangkan.

Di balik ramainya Lapangan Jurasik seperti ketika jam-jam istirahat dan sedang ada pertandingan, lapangan ini sangat memiliki kesan tenang dan damai untuk saya, terlebih ketika sore hari, baik itu saat cerah maupun ketika hujan. Melihat matahari yang akan tenggelam dengan sinarnya yang mulai meredup dari Lapangan Jurasik merupakan favorit saya. Tidak jarang saya melewati momen saat matahari akan tenggelam dengan duduk di sekitar lapangan bersama teman sambil berbincang-bincang. Atau ketika saya menonton pertandingan, dan pertandingan telah usai, saya sering tidak beranjak dari tempat untuk menikmati suasana sunset tersebut walau hanya sebentar. Sedangkan ketika hujan atau sehabis hujan, bau rerumputan basah merupakan hal yang sangat saya senangi.

 

IMG_5897
Tampak Area Lapangan dari Salah Satu Sudut Sekolah Ketika Sehabis Hujan

 

IMG_5900
Koridor Kelas yang Langsung Mengarah ke Lapangan

 

Kesan yang ditimbulkan Lapangan Jurasik selalu membuat saya sering ingin kembali kesana. Beberapa kali saya dan teman-teman sengaja berkunjung ke SMAN 8 hanya untuk bermain dan melihat keadaan sekolah, dan rasanya masih sangat kental. Membayangkan tempat ini menjadi saksi bisu akan semua peristiwa yang terjadi selama 3 tahun di sana, saya jadi sangat paham bagaimana terbentuknya sebuah ‘place‘ yang memberikan makna tersendiri pada masing-masing orang.

 

15213040 | Adisti Yonita W

Eat Republic; Hijau di Tengah Gersang

Awaliyah M – 15213075IMG_20160424_150650

Eat republic adalah sebuah pusat kuliner yang terletak di South City Blok A5 No. 8-10, Jalan Pondok Cabe Raya, Tangerang Selatan. South city sendiri saat ini masih berada dalam tahap pengembangan, sehingga area tempat Eat Republic berada masih sangat kosong. Diantara kekosongan lahan dan jalan-jalan raya yang lengang, sangat menyegarkan rasanya melihat sebuah bangunan dengan bentuk seperti saung dan penuh pepohonan ini.

Outdoor eating area
Outdoor eating area
Indoor eating area
Indoor eating area

Bangunan Eat Republic terdiri dari sebuah massa semi terbuka dengan penggunaan material dominan bambu dan baja. Bentuk keseluruhan bangunannya terlihat seperti sebuah saung besar yang terdiri dari sebuah massa utama di tengah dan sayap bangunan di kanan dan kirinya. Terdapat semacam aula besar beratap membran di bagian tengah bangunan yang berfungsi sebagai tempat diadakannya live music. Di kedua sayap bangunan tersebar aneka rupa booth makanan dan meja meja panjang dari kayu untuk tempat makan. Selain itu, terdapat taman-taman, saung lesehan dan outdoor eating area di bagian timur, utara, dan barat Eat Republic. Taman taman tersebut menyajikan pemandangan yang asri, baik untuk yang makan di dalam maupun luar bangunan.

suasana yang hijau dan asri
suasana yang hijau dan asri

Meskipun lingkungan sekitar bangunan masih kosong melompong, atmosfer di dalam Eat Republic sangat nyaman dan sejuk. Hal ini karena bentuk bangunannya yang memang didesain semi terbuka, sehingga sirkulasi udara di dalam bangunan sangat baik. Penanaman banyak pohon di sekitar bangunan juga menjadi salah satu faktor utama mengapa udara di dalam bangunan terasa sejuk.

Lalu, apa yang membuat tempat makan ini menarik?

Eat Republic menawarkan konsep pembayaran makanan yang terbilang unik dan cukup baru di Indonesia, yakni sistem pembayaran menggunakan kartu semacam kartu kredit. Pembeli diharuskan top-up kartu terlebih dahulu di kasir, kemudian baru berkeliling untuk melihat lihat makanan yang dijual. Menu makanan yang ditawarkan juga sangat bervariasi, dari jajanan pasar seperti kue cubit dan kue balok, makanan berat seperti konro bakar hingga makanan ala luar negeri seperti churros. Semua makanan dijajakan dalam booth-booth kecil yang tersebar di seantero Eat Republic. Tinggal datangi boothnya, pilih menunya, dan bayar dengan kartu.

booth berbentuk saung
booth berbentuk saung
booth berbentuk gerobak
booth berbentuk gerobak

Selain itu, Eat Republic mengangkat tema tradisional Indonesia, sehingga bentuk bentuk booth yang ada di sana didesain menyerupai saung. Selain itu, untuk booth yang menjajakan makanan ringan, bentuknya dibuat seperti gerobak dagangan tradisional. Sangat unik. Segala elemen interiornya juga didesain menyesuaikan dengan tema tersebut, sehingga suasana tradisional yang dibawa cukup terasa.

Sayangnya, saya mengunjungi Eat Republic pada siang hari di hari kerja, jadi suasana di sana tidak begitu ramai. Biasanya, Eat Republic akan dipenuhi pengunjung saat hari libur, terutama pada malam hari karena biasanya pada saat itulah live music diadakan. Namun, itu tidak mengurangi kesan-kesan yang saya terima saat berkunjung ke sana. Dengan suasana yang asri dan menu-menu menarik yang ditawarkan, saya tidak akan ragu untuk berkunjung ke sana lagi.

Bagaimana dengan Anda? Tertarik mencoba?

 

Luka Lama Hiroshima

15212064 | Ivana Anggraeni

[Warning: Slightly Graphic Content]

 

Perjuangan Perang

Penjatuhan bom nuklir oleh Amerika di Hiroshima 70 tahun yang lalu merupakan pukulan berat bagi Jepang serta memicu pertanyaan mengenai moral masyarakat dunia. Hingga saat ini, kejadian bersejarah tersebut masih membekas kuat dalam masyarakat Hiroshima yang mendirikan Hirohima Peace Memorial Park di atas jantung jatuhnya sang ‘Little Boy’.

Hiroshima Peace Memorial Park didirikan tahun 1954, sekitar 9 tahun setelah penjatuhan bom oleh arsitek Jepang bernama Kenzo Tange. Memorial Park ini sendiri mencakup monumen-monumen yang tersebar pada lahan serta Peace Museum dan beberapa bangunan peninggalan pemboman. Bangunan-bangunan ini aman untuk didekati, kadar radiasinya telah menurun sehingga Anda dapat menyentuh beberapa tembok terluar bangunan seperti A-Bomb Dome yang merupakan salah satu bangunan penting karena berhasil selamat dari ledakan dengan jarak hanya 160 meter dari pusat lokasi bom. A-Bomb Dome sendiri telah ada sejak tahun 1915 oleh arsitek Ceko bernama Jan Letzel sebagai tempat eksibisi.

A-Bomb Dome / Genbaku Dome, Hiroshima
A-Bomb Dome / Genbaku Dome, Hiroshima

Dalam kesempatan mengunjungi Hiroshima Peace Museum, Anda dapat melihat benda-benda yang disumbangkan secara sukarela oleh para korban bom. Mulai dari sepeda, pakaian, helaian rambut, hingga jam yang waktunya terhenti tepat saat meledaknya bom ‘Little Boy’. Objek-objek tersebut dipamerkan dengan penjelasan terkait kerusakan serta cerita pengalaman yang melatarbelakanginya. Area museum sendiri dibagi menjadi Kerusakan akibat Ledakan, Kerusakan akibat Gelombang Panas, serta Kerusakan akibat Radiasi. Beberapa patung peraga juga menyajikan kengerian yang begitu jelas mengenai apa yang terjadi pada korban bom secara fisik. Ruang pameran dijaga agar tetap redup sehingga pengunjung merasakan kesedihan dan juga kemarahan Hiroshima akan apa yang telah terjadi pada mereka pada tanggal 6 Agustus itu.

Patung peraga korban bom Hiroshima
Patung peraga korban bom Hiroshima

Anda juga dapat melihat maket lahan Hiroshima sebelum pemboman dan setelah pemboman untuk membandingkan serta mengidentifikasi besarnya kerusakan yang terjadi.

Hiroshima setelah jatuhnya bom
Hiroshima setelah jatuhnya bom

 

Simbolisme yang Powerful

Hiroshima Memorial Park dirancang menggunakan sumbu, yang menghubungkan A-Bomb Dome, Peace Museum, serta beberapa monumen penting dalam lanskap. Monumen itu termasuk Memorial Cenotaph berbentuk sadel dari beton yang berukirkan nama korban yang meninggal saat pemboman, dan Peace Flame yang nyala apinya tidak pernah padam sampai setiap bom nuklir dihapuskan dari bumi ini. Sumbu tersebut ketika disusuri akan menceritakan kisah secara lengkap dari masa lalu hingga harapan masayarakat Hiroshima untuk masa depan.

Melihatnya secara langsung, rasanya mata berkaca-kaca membayangkan simbolisme yang begitu kuat dari setiap monumen dan bangunan yang ada. Begitu dalam luka mereka, namun mereka masih tetap membuka diri bagi pengunjung luar dan memperjuangkan perdamaian dunia. Setiap monumen memiliki deskripsi cerita masing-masing, dari monumen besar hingga untuk monumen bagi anak-anak yang dihiasi oleh lipatan burung kertas dan patung Sadako Sasaki.

Simbol yang kuat memberikan citra perdamaian bagi masyarakat Hiroshima, dan menyebar hingga pada hati siapapun yang mengunjunginya. Hiroshima Memorial Park merupakan tempat yang benar-benar berhasil menjalin koneksi dengan perasaan setiap orang yang singgah untuk mengetahui kisahnya.

Rangkaian lipatan burung kertas di Monumen Sadako Sasaki
Rangkaian lipatan burung kertas di Monumen Sadako Sasaki