Kenyamanan Tempat Tinggal Kedua

15214029 | Hadist Alamanda Johan.

Lokasi: MAN Insan Cendekia Gorontalo

Salah satu pengalaman ruang yang pernah saya rasakan adalah pengalaman sekolah berasrama yang letaknya cukup jauh dari tempat tinggal, berbeda pulau bahkan. Sekolah tersebut adalah MAN Insan Cendekia Gorontalo. Sekolah ini berada di tempat yang sangat nyaman untuk belajar karena tenang sekali. Ia berada di antara sawah-sawah yang masih hijau dengan pemandangan alam berupa bukit dan pegunungan yang menjulang serta langit yang masih bersih. Saya tinggal disini selama 3 tahun. Banyak kesan yang dirasakan disana. Sekolah berasrama ini dilengkapi dengan beberapa fasilitas yang mendukung berbagai aktivitas, baik murid, guru, bahkan civitas lainnya. Beberapa fasilitas yang memberikan kesan tersendiri, diantaranya: lapangan yang cukup luas, pendopo, masjid dan gedung tahfidz, gedung serbaguna, serta akses jalan yang cukup luas.

Lapangan

Gambar 1. Lapangan Utama.

Lapangan yang cukup luas memberikan kesan tenang. Stimulus yang diberikan berupa pemandangan alam. Deretan pepohonan yang seolah-olah membentuk frame untuk bukit dan gunung di belakangnyta. Perpaduan warna hijau, putih, dan biru memberi kesan ketenangan. Pemandangan seperti ini didapatkan saat kita berada di gedung pendidikan. Ketika ngantuk mulai terasa di kelas, pemandangan seperti ini sedikit menghilangkan rasa ngantuk. Ketika kita merasa tegang saat mau ujian, pemandangan seperti ini pula memberikan rasa rileks. Terkadang sehabis hujan, akan terlihat pelangi yang cukup jelas.

Pendopo

Gambar 2. Pendopo.

Pendopo merupakan salah satu bagian yang cukup memberikan kesan selama berada di asrama ini. Pendopo menjadi salah satu tempat yang sering digunakan untuk berkumpul. Berkumpul dalam rangka diskusi ataupun hanya sekedar makan-makan. Pendopo yang berbentuk segiempat dengan atap limas ini, terletak di dekat kantin, koperasi, serta sarana olahraga. Sehingga ketika sore hari dan pagi hari di hari libur, cocok untuk bersantai-santai. Pendopo tanpa dinding, terkadang mengundang rasa penasaran orang-orang yang lalu-lalang di sekitarnya ketika ada acara yang diselenggarakan disana.

Masjid gedung tahfidz

Gambar 3 (kiri). Masjid. Gambar 4 (kanan). Gedung Tahfidz.

Masjid dengan bentuk yang hampir simetri ini merupakan tempat yang sering dikunjungi kami. Letaknya hampir di pusat dari seluruh bangunan di asrama ini. Masjid Ulul Albab memiliki 3 akses masuk. Pintu selatan (sisi kiri pada gambar), sebagai pintu masuk ikhwan/laki-laki. Pintu timur (sisi kanan pada gambar), sebagai pintu masuk akhwat/perempuan. Satu akses lagi berada di utara yang berfungsi sebagai akses menuju tempat wudhu ikhwan. Selain digunakan sebagai tempat ibadah, bangunan dua lantai ini terkadang digunakan sebagai tempat untuk berkumpul karena bagian dalam yang cukup luas. Bagian tengah antara pintu selatan dan timur (tempat papan nama) dibuat menonjol sebagai salah satu permainan ruang. Di balik bagian ini, terdapat tangga akses ke lantai dua dan tempat penyimpanan alat ibadah. Di sisi utara masjid berbatasan dengan gedung tahfidz yang berfungsi sebagai tempat menghafal al-quran. Bangunan ini memiliki bentuk yang simetri dengan dua lorong, yang masing-masing lorong terdiri dari tiga ruangan. Diantara kedua lorong, terdapat taman kecil. Taman ini memberikan sedikit kenyamanan ketika menghafal.

gsg

Gambar 5 (kiri). Gedung Serbaguna. Gambar 6 (kanan). Bagian Dalam Gedung Serba Guna.

Gedung serbaguna merupakan salah satu tempat yang banyak digunakan untuk menyelenggarakan acara tertentu. Beberapa acara yang diselenggarakan disini adalah acara penyambutan peserta didik baru, pameran karya ilmiah, pentas seni, hingga prosesi wisuda. Gedung dengan bentuk atap pelana ini, memiliki kuda-kuda kayu yang terekspos. Bangunan ini memiliki akses yang cukup banyak, karena memiliki cukup banyak bukaan pada sisi kanan dan kiri. Pada acara tertentu (seperti wisudaan), bukaan tersebut dapat ditutup dengan kain sehingga gedung ini terlihat sangat tertutup. Sehari-hari, gedung serba guna digunakan sebagai tempat olahraga juga, khususnya bulutangkis. Bangunan yang menghadap hampir ke barat ini memiliki panggung di sisi timur bagian tengah. Bukaan yang cukup banyak diletakkan di sisi utara dan selatan, sehingga tidak menantang arah datang sinar matahari.

jalan

Gambar 7. Pembatas Jalan Yang Digunakan Untuk Duduk.

Akses jalan yang cukup terlihat mempermudah penghuni untuk menemukan arah mencapai bangunan tertentu. Saat awal pintu masuk utama, kami disambut dengan pos satpam dan kemudian ada lapangan bola yang cukup luas. Jalan kendaraan dibuat mengitari lapangan bola tersebut. Lebar jalanan cukup untuk dilalui dua mobil yang berlawanan arah. Disisi jalan dilengkapi pembatas jalan yang dapat digunakan untuk duduk-duduk sejenak. Di pagi hari saat akan menuju gedung pendidikan, kami dibiasakan untuk berbaris dan melewati jalan utama. Sambil menunggu teman-teman yang masih bersiap-siap, kami duduk di pembatas jalan tersebut sambil berbincang dan berdiskusi.

Sebagian besar kesan yang diberikan dari ruang dan tempat tersebut adalah positif. Kesan positif ditimbulkan karena stimulus yang diberikan tidak terlalu banyak, sehingga pengamat merasakan ketenangan. Warna yang digunakan seperti warna, putih, biru, hijau, dan krem memberikan perpaduan yang cukup baik dan juga nyaman untuk dipandang. Warna-warna tersebut menyatu dengan kondisi alam disana yang didominasi dengan sawah dan bukit/pegunungan. Suhu disana cukup tinggi sehingga terasa panas, namun banyaknya pepohonan dapat memberikan kesejukan. Lingkungan yang nyaman memberikan keakraban tersendiri antar penghuninya.

Villa Merah Kenangan

616589_10204025176886892_3215578964064595602_o 1597880_10152008338648863_2066575081_o 859872_10152008358603863_415890348_o

15213053 | VN

Villa Merah Sukawana terletak di daerah Lembang, tepatnya di Kampung Kancah, Desa Karyawangi, Kecamatan Parongpong, Bandung Barat. Villa ini merupakan salah satu aset agrowisata yang dimiliki oleh PT Perkebunan Nusantara, oleh karena itu, villa ini terbangun di dekat area perkebunan dan pabrik teh yang sangat besar.

Villa ini disebut villa merah karena dinding eksteriornya dicat dengan warna merah. Luas villa merah ini sekitar 250m2. Di dalam villa terdapat empat kamar tidur dengan luas 20m2 dengan fasilitas kamar mandi di setiap kamarnya, ruang makan dan ruang tamu yang saling terhubung serta dapur seluas 10m2 di bagian belakang villa. Pengorganisasian ruang di dalam villa ini, sangat mirip dengan gaya breezeway house atau dogtrot house. Teras depan, pintu utama, ruang tamu, ruang makan, pintu belakang dan teras belakang berada pada satu garis lurus. Dengan pengorganisasian ruang seperti ini, ruang-ruang di dalam villa ini terasa lebih luas dan saling menyambung.

Di bagian depan villa terdapat teras yang luas dan pembatas teras lebar terbuat dari beton yang sekaligus  dapat dijadikan tempat duduk-duduk. Di sekitar villa terdapat halaman yang sangat luas. Terutama di dekat teras belakang, terdapat halaman berumput yang cukup luas dan datar, dan dijadikan sebagai lapangan untuk bermain bola ataupun untuk mengadakan api unggun. Dan di belakang villa ini terdapat gerbang untuk akses langsung ke perkebunan teh.

Suasana di villa ini masih terasa sangat asri dan sejuk. Suhu udara juga rendah namun tetap nyaman. Suasana ini terjadi karena masih sangat hijaunya lingkungan di sekitar villa. Dengan hamparan halaman hijau dengan banyak pohon yang luas serta perkebunan teh yang sangat luas memberi sumbangan oksigen dan kesejukan yang besar.

Setiap kali menginap di Villa Merah untuk mengikuti malam keakraban furniture di ruang tamu dan ruang makan dipinggirkan untuk membentuk suatu ruang besar untuk berkumpul, bermain dan tidur bersama, sehingga terciptalah ruang bebas yang besar. Bagi penulis, villa ini adalah ruang yang bukan hanya sebuah space, melainkan adalah sebuah place yang memiliki makna tersendiri. Villa ini menjadi tempat kenangan setiap tahunnya dalam mngikuti malam keakraban unit. Tempat kenangan bertemu dan berkenalan dengan banyak teman-teman baru, bermain bersama, dan juga menjadi tempat yang paling enak untuk menghilangkan kepenatan sejenak dari segala aktivitas dan kesibukan sehari-hari.

 

District 29, Sebuah Ruang Kontemplasi

Raja Samuel Purba – 15212049

Pengantar

Bandung merupakan salah satu kota yang dikenal memiliki beragam jenis kuliner yang lezat. Hal ini didukung dengan keberadaan restoran-restoran menarik yang tersebar di seluruh penjuru Kota Bandung. Restoran-restoran atau kafe-kafe ini tidak hanya menjual makanan yang mengunggah selera tetapi juga menawarkan interior ruangan yang menarik bagi pengunjung. Dan beberapa dari restoran ini tidak hanya menjadi sebuah tempat untuk makan tetapi juga menjadi ruang kontemplasi bagi kita.

20160311_224105
Ruangan dengan konsep rustic Sumber : Dokumentasi pribadi

Kejujuran Material

Salah satu dari restoran atau kafe tersebut adalah District 29. District 29 merupakan sebuah restoran yang terletak di Jalan Bungur No.29. Restoran yang buka dari pukul sepuluh pagi hingga dua belas malam ini, selain memiliki makanan yang enak, juga memiliki konsep bangunan yang menarik. Hal ini terlihat dari bagian depan restoran dan interiornya. Restoran ini memakai konsep rustic, sebuah konsep yang memiliki semangat bahwa keindahan sebuah material berasal dari material itu sendiri. Jadi tidak perlu polesan atau tambahan finishing lain. Ketika kita sampai di restoran ini, kita akan melihat dinding depan District 29 terbuat dari beton yang tidak diselesaikan kemudian terdapat pahatan tulisan “District” yang juga dibiarkan tidak selesai, hanya dipahat sekenanya tanpa dirapikan. Kemudian ketika kita masuk ke dalam restoran, pertama-tama kita akan melihat lukisan Marilyn Monroe yang dipahat di atas kayu kemudian kita akan melihat bahwa seluruh bagian dari restoran dibiarkan sesuai dengan material penyusunnya. Dinding beton yang tidak dicat, atap genteng yang tidak ditutupi ceiling, lampu yang dibiarkan menjuntai ke bawah tanpa elemen tambahan lain, lantai beton yang tidak diberi keramik, dan balok-balok kayu penahan atap yang juga dibiarkan apa adanya. Ketika pun ada bagian yang dicat seperti kusen pintu dan jendela, warna yang dipakai merupakan warna dominan sehingga tidak merusak konsep kejujuran material yang dibawa, seperti warna hitam atau putih. Kombinasi permainan warna hitam-putih-abu, pemakaian perabot dengan bahan material asli, dan bagian-bagian dalam restoran yang dibiarkan apa adanya membuat District 29 menjadi restoran yang sangat menarik bagi saya untuk bersantap dan bersantai.

Taman kecil yang bersebelahan dengan ruang utama restoran. Sumber : Dokumentasi pribadi

Mencari Ruang Utama

Selain konsep rustic pada bangunan, hal lain yang menarik dari restoran ini adalah denah ruangannya.Denah ruangan tidak seperti restoran kebanyakan, yang menaruh ruang utama bagi pengunjung di bagian depan. Untuk masuk ke bagian utama dari District 29, kita harus melewati lorong panjang yang diisi dengan bar dan kasir, tidak ada meja untuk pengunjung. Hanya sebuah sofa dan meja kecil yang disediakan untuk pengunjung yang ingin membawa pulang pesanannya. Di ujung lorong tadi, kita akan menemukan ruangan utama, sebuah ruangan besar yang diisi dengan sofa dan meja untuk pengunjung yang bersebelahan dengan sebuah taman kecil. Ruangan tersebut masih mengusung konsep yang sama dengan bagian depan tadi. Dengan pencahayaan yang tidak terlalu terang, angin sepoi-sepoi dari taman, dan warna-warna material pada dinding dan furniture, membuat kita merasa rileks dan tenang sambil menyantap hidangan kita.

 

Ruang Kontemplasi

District 29 ini menjadi sebuah tempat yang menarik bagi saya secara pribadi. Karena restoran ini, tidak seperti restoran lainnya, memberikan sebuah rasa personal untuk saya. Restoran ini memberikan pilihan aktivitas yang dapat saya lakukan sesuai keinginan saya. Saya dapat menikmati hidangan sambil duduk santai dengan teman-teman atau mungkin seorang diri sambil sejenak berkontemplasi tentang hari-hari saya. Saya bisa sejenak rehat dari segala kepenatan saya, sambil menikmati hidangan, sejuknya udara Bandung dan musik yang mengalun. Saya bisa membebaskan pikiran saya dari segala masalah yang saya alami hari itu. Sehingga ketika saya keluar dari restoran ini, saya tidak hanya merasa kenyang, tetapi juga merasa lebih ‘ringan’ dan lebih bersemangat untuk menyelesaikan masalah saya.