PENGMAS PULOSARI

Sabtu (25/04) kemarin, IMA G mengadakan pengmas ke kampung Pulosari yang terletak di bawah jembatan Cikapayang berdekatan dengan Taman Film. Pengmas ini dilakukan dengan tujuan untuk mengambil data mengenai kampung Pulosari dengan cara informal. Cara yang dilakukan yaitu melalui game yang melibatkan anak-anak kampung tersebut dengan mencari potongan puzzle di rumah-rumah warga. Sembari mencari puzzle, peserta game diharuskan berbincang bersama warga yang memiliki potongan puzzle tersebut. Setelah puzzle terkumpul dan waktu game telah habis, peserta menyatukan puzzle tersebut di lapangan kampung Pulosari. Disana juga telah disediakan bahan-bahan untuk membuat rujak buah. Bahan-bahan itu diolah dengan bantuan warga sekitar, yaitu ibu-ibu di kampung tersebut. Acara pengmas hari Minggu kemarin diakhiri dengan makan rujak bersama-sama warga kampung dan tidak lupa foto bersama.

Kelas Pertama: Mengajar di Ciroyom

       Hari ini saya mendapatkan pengalaman baru yang cukup menarik. Awalnya, saya diajak oleh kadiv Pengmas IMA G, Kak Sosiana untuk ikut bersama beliau mengajar di Rumah Belajar Kereta Mimpi di daerah Stasiun Ciroyom. Kami berdua pergi bersama beberapa anak Kementrian Pemberdayaan Komunitas, termasuk menterinya, Kak Jamika, serta teman saya di Skhole, Novi. Lokasinya cukup jauh dari kampus, sekitar 30 menit naik angkot Caheum-Ciroyom.

       Sekitar 500 meter sebelum turun, mulai tercium bau tidak sedap yang menusuk hidung. Rupanya, kami sedang melewati tempat pembuangan akhir yang berlokasi tepat di sebelah pasar Ciroyom. Lebih ‘wah’ lagi, karena lokasi pasar ini terbelah dua oleh rel kereta api. Mereka santai saja berlalu lalang di sana tanpa adanya palang pembatas. Jika ada kereta akan lewat, barulah pedagang, pembeli dan kesibukan lain di sepanjang rel bubar merapat ke pinggir, termasuk kegiatan ‘nongkrong’ para lalat. Jadi… ketika kereta sedang melewati TPA, lalat lalat yang ‘ngetem’ di tumpukan sampah akan bubar sementara secara serentak hingga menimbulkan bunyi “werrrrrrrrrrr”. Kebayang kan, ratusan, bahkan ribuan lalat terbang bersama sama. Bahkan ada momen dimana si angkot yang kami naiki ngetem di pinggir rel kereta, lalu… segerombolan lalat terbang masuk ke dalam angkot… Kami pun hanya bisa pasrah sambil mengibaskan lengan, saputangan, jaket, apapun yang memugkinkan untuk mengusir si lalat keluar.

       Menurut cerita Kak Jamika yang sudah pernah mengajar di Ciroyom, di rumah belajar nanti keadaannya tidak akan jauh berbeda dengan keadaan yang kami alami saat di angkot itu. Ya panasnya. Ya baunya. Ya semuanya lah. Saya hanya bergidik ngeri membayangkan keadaan yang mengerikan seperti tadi (dan harus bertahan dalam keadaan demikian untuk 2 jam).

       Setelah turun dari angkot, Kami berjalan sekitar 100 meter dari jalan raya, tibalah rombongan kami di sebuah mushalla kecil dua lantai. luasnya paling tidak lebih dari 2.5x4m, disanalah kegiatan belajar dilaksanakan. Kamipun bersiap dan ngeriung membentuk lingkaran bersama adik adik Ciroyom di dalam mushalla kecil tersebut. Diawali dengan perkenalan oleh kakak serta adik adik dengan menyebutkan nama dan cita cita, kemudian kak Ainun yang merupakan pembimbing tetap mulai mengelompokan para pengajar serta adik adiknya. Untuk anak kelas 5 ke atas diajari perkalian dan pembagian, sedangkan untuk yang belum bisa diajari penjumlahan dan pengurangan. Untuk adik yang lebih kecil lagi diajak mendengarkan cerita sambil belajar membaca bersama kak Jamika.

       Saya membantu dua orang adik belajar perkalian dan pembagian, Ayu, kelas 6 SD yang bercita cita menjadi Dokter, serta Marissa, kelas 5 SD yang bercita cita menjadi pramugari. Mereka cukup cerdas untuk ukuran teman teman sepantaran mereka di lokasi mereka tinggal. Mereka dengan cepat memahami apa yang saya jelaskan meski saya akui, saya bukanlah orang yang pandai menjelaskan sesuatu dengan luwes. Namun alhamdulillah, semoga mereka benar benar memahami hal yang saya bicarakan barusan.

       Yang membuat saya sangat kagum terhadap Rumah Belajar Kereta Mimpi ini adalah, pertama Kak Ainun yang hafal setap anak serta perilakunya. Saya amat kagum terhadap hasil kerja keras beliau (serta timnya, karena kemungkinan ada orang orang lain yang membantu beliau di belakang) yang tercermin dari perilaku anak anak di rumah belajar. Belum pernah saya melihat anak yang begitu nurut kepada kakak kakak, tidak berkata kasar, serta dapat dipercaya seperti anak anak Kereta mimpi. Terus terang, meski sudah 2 tahun mengajar di Kebon Bibit (seringan bolosnya sih daripada ngajarnya) namun spertinya saya tidak akan bisa mempercayai anak anak (yang sudah smp sekalipun) untuk membeli keperluan sekolah mereka dengan memberikan uangnya (dan bukan memberikan barang jadi). Saya salut terhadap kepercayaan kak Ainun terhadap anak didiknya. Terhadap bagaimana tegasnya beliau mengingatkan adik adik yang sudah SMP bahwa mereka “memiliki tanggung jawab lebih untuk mengajarkan adik yang lebih kecil”, namun pada saat yang bersamaan, terlihat bagaimana sesungguhnya beliau menyayangi mereka seperti seorang kakak yang mengayomi adiknya sendiri.

       Saya juga kagum terhadap perilaku adik adik yang sangat manusiawi. Namanya juga anak anak, sewajarnya nakal dan membantah. Namun tidak dengan adik adik di Ciroyom. Mereka begitu  nurut terutama kepada kak Ainun. Mereka seperti adik adik PAS Salman yang hanya dengan ucapan “Adik Adik!”,lalu dijawab “SIAP!” sembari merapikan diri mereka dan kembali fokus kepada kakak kakak. Rasa takut saya akan kemampuan saya bertahan di sana selama dua jam hilang sudah. Bahkan, jika diberi kesempatan, saya ingin kembali dan mengajar lagi di sana, bertemu dengan adik adik yang baik budi, manis dan ganteng, serta pintar pintar J

       Untuk informasi lebih lanjut tentang rumbel Kereta mimpi, anda bisa membaca tulisan salah satu relawan pengajar di sini :

http://novalsossh.wordpress.com/2014/07/15/rumah-belajar-kereta-mimpi-merajut-mimpi-di-tepi-rel-kereta/#more-583

Penulis:

Himmah Qudsyiah, G-13
Staff Divisi Pengabdian Masyarakat IMA-G ITB

KKN TEMATIK ITB

       KKN (Kuliah Kerja Nyata) Tematik ITB adalah salah satu mata kuliah pilihan yang diadakan oleh Lembaga Kemahasiswaan ITB dengan beban 2 SKS. Bisa dibilang kalau KKN Tematik  ini adalah pengmas 1 KM-ITB yang secara langsung terjun ke dalam sosial masyarakat itu sendiri dengan membawa solusi sebuah permasalahan masyarakat. KKN Tematik ini dilaksanakan saat liburan semester genap sehingga kita bisa memanfaatkan liburan awal semester genap dengan penuh manfaat dan tentu saja kita bisa mengenal banyak teman dari seluruh jurusan di ITB. Mata kuliah ini dapat diambil oleh mulai mahasiswa yang telah menyelesaikan semesrter 4 atau akan menuju semester 5 dan seterusnya. Di mata kuliah pengmas ini kita dituntut  mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang selama ini kita peroleh dari kuliah maupun sumber lainnya untuk memecahkan permasalahan nantinya.

       Pada tahun ini KKN Tematik ITB ini dilaksanakan di daerah Cianjur pesisir tepatnya desa Sinarlaut kecamatan Agrabinta. Tempat ini dipilih oleh panitia KKN Tematik sebelumnya berdasarkan permasalahan desa tersebut. Pada kali ini KKN Tematik ITB ini dijalankan dalam 4 tema, yaitu Infrastruktur, Air, Energi, dan Pendidikan dengan sumber dana berasal dari pemerintah Jawa Barat dan LK ITB. KKN Tematik ITB 2014 ini dijadikan sebagai KKN contoh untuk universitas di Jawa Barat lainnya karena dana yang berasal dari pemerintah Jawa Barat sendiri serta kegiatannya yang lebih berorientasikan pada hasil atau produk dari karya KKN ITB untuk desa tersebut selain proses dan pembelajaran yang diambil juga dari kegiatan ini.

KKN TEMATIK ITB TEMA INFRASTRUKTUR 2014

       Pada kali ini tema infrastruktur memilih menyelesaikan masalah di desa Cipining untuk membangun madrasah karena kebutuhan pendidikan bagi anak-anak di desa tersebut lebih dibutuhkan serta keadaan madrasah yang akan dijadikan sebagai sekolah yang dipegang oleh pemerintah Jawa Barat kurang layak digunakan sebagai tempat sarana belajar mengajar.  Tujuan pembangunan Gedung Madrasah Diniyah Cipining adalah untuk menciptakan suasana yang aman, nyaman dan kondusif untuk kegiatan belajar mengajar sehingga dapat meningkatkan prestasi akademik dan non akademik siswa Madrasah Diniyah Cipining.

Desain

Bangunan  madrasah ini akan dibangun di daerah cipining dengan luas tanah 100m2 . diusahakan selesai selama kami berada di desa cipining, yaitu selama 21 hari lamanya. Tetapi, karena bahan bangunan baru sampai 1 minggu setelah kami datang, maka kami dituntut untuk menyelesaikan bangunan ini selama 2 minggu saja. Akhirnya kami memilih desain bangunan yang semi permanen. Karena kami mengejar pembangunan madrasah yang cepat selesai, tapi dilain sisi kami harus membuat madrasah yang cukup bagus untuk memfasilitasi pendidikan.

Desain madrasah memakai kerangka kayu dengan tembok batu bata yang dibangun 1 meter dari atas tanah, dan sisanya adalah kayu.  Kecuali untuk tembok bagian depan bangunan, yang keseluruhannya dari batu bata.

r7

r 3r4rumah 2

r6

r5

Keberangkatan

       Kami berangkat dari bandung pada pukul 23.00. perjalanan ke balai desa agrabinta memakan waktu kira-kira 8 jam. Dengan menggunakan elf disambung dengan truk. Dari balai desa agrabinta, kami menuju desa cipining selama setengah jam menggunakan mobil pick up.

kondisi di atas truk

Desa Cipining

Desa yang kami tempati bernama desa cipining. Desa kecil dengan 1 jalan utama yang merupakan jalanan berbatu. Perbatasan timur desa ini merupakan kebun, perbatasan utara dan selatan merupakan sawah dan perbatasan barat adalah desa lingkung sari. Madrasah yang kami bangun berada di daerah timur desa. Dan berada di depan rumah tinggal kepala sekolah madarasah, Pak Herman.

Desa cipining merupakan desa yang cukup kecil. Terdapat sekitar  30 kepala keluarga, satu buah masjid, dan terdapat sekitar 3 warung. Desa cipining ini hampir semuanya berkerabat dan memiliki hubungan darah. Untuk rumah warga pun  sudah cukup maju. Tidak jarang rumah warga yang sudah permanen meskipun ada yang masih menggunakan kayu dan bambu serta pondasi dari umpak. Alat-alat nya pun masih tradisional. Di setiap rumah, kebanyakan terdapat satu tungku untuk memasak.

Pekerjaan sehari-hari dari masyarakat desa ini adalah berkebun, bertani, menggembala dan membuat gula kelapa.  Kendaraan pribadi yang dimiliki kebanyakan adalah sepeda motor. Air dan listrik cukup terbatas di desa ini. Untuk air, kebanyakan memakai timba atau pompa.

Pendidikan paling tinggi di desa ini mencapai tingkat SMA. Fasilitas pendidikan di desa ini hanyalah madrasah diniyah. Untuk SD dan SMP, anak-anak harus pergi ke desa lain. Dan untuk ke SMA mereka harus pergi jauh ke kota. Dan kebanyakan mereka sudah menikah di umur 17 tahun an.

Kami, dipencar ke 4 rumah tinggal. 2 rumah berada dekat dengan pembangunan madrasah di daerah timur. Satu ditengah dan satu lagi di daerah barat.

Sosialisasi

Selain tugas pembangunan madrasah, kami juga ditugaskan untuk melakukan social mapping. Jadi kami pun melakukan sosialisasi ke warga setempat. Setiap jumat, kami menyempatkan untuk mengikuti pengajian  masjid bersama ibu-ibu warga setempat. Dan setelah itu, kami biasanya pergi mengelilingi desa dan bersilaturahmi ke rumah-rumah warga. Warga desa cipining benar-benar sangat baik terhadap kami. Tidak jarang kami diberikan bahan-bahan makanan dan hasil perkebunan.

Bersama tema pendidikan, kami juga bekerja sama dalam melakukan perpisahan anak-anak madrasah, tepatnya pada tanggal 15 Juni 2014. Terdapat berbagai lomba dari lomba mengaji, da’I, lomba shalat. Dan berbagai permainan yang seru. Ditutup dengan penampilan tari saman dari anak-anak kelas 5 dan 6.

1

4

2

3

Pembangunan madrasah

Kami memulai pembangunan madrasah seminggu setelah kami sampai. Seminggu awal, kami meratakan tanah yang dibantu oleh warga sekitar. Saat itu, kami terkadang rapat bersama dengan tokoh-tokoh warga tentang pembangunan madrasah.

Masalah yang kami dapat mungkin di sekitar RAB, karena kami masih belum berpengalaman dalam menyusun RAB dan juga kendala pada dana yang turun dari pusat. Masalah lainnya adalah kami tidak sempat menyelesaikan bangunan madrasah seutuhnya. Meskipun sudah 80% selesai.

rapat internal

rapat internal 2

Kondisi Awal Madrasah

kondisi awal madrasah

kondisi awal madrasah 2

Tahap Pembangunan Madrasah

pembangunan madrasah
Perataan tanah
pembangunan madrasah 2
Pengadukan semen

 

 

 

 

 

 

 

pembuatan sloof
Pembuatan sloof
pembuatan pondasi
Pembuatan pondasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

membuat atap
Membuat kerangka atap
pengatapan
Membuat rangka atap

 

 

 

 

 

 

 

 

finishing
Finishing tembok

Have Fun

Pada KKN kali ini, kami benar-benar merasa senang dan mendapat banyak pengalaman yang tidak akan terlupakan. Belajar banyak hal, belajar bersyukur dan juga belajar bahagia.

bahagia

 

 

CERITA PENGMAS #1 : Survey Geohumanism2

Hari Sabtu, 21 Maret lalu saya mengikuti kegiatan survei akbar yang diselenggarakan oleh HMTG GEA yang merupakan salah satu rangkaian acara dari proyek pengabdian masyarakat jangka panjang mereka, Geohumanism. Saya berangkat sebagai perwakilan dari IMA Gunadharma bersama seorang senior saya, kak Tesya.

Kami semua berangkat ke desa Tarumajaya bersama sama menggunakan 2 buah minibus dengan lama perjalanan hampir tiga jam. Bukan karena tempat tujuan yang sangat jauh, namun karena lokasinya yang blusukan dan berliku mengitari perbukitan.

Awalnya, saya tidak memiliki ekspektasi yang besar terhadap keikutsertaan saya di sini. Apalagi setelah bertanya pada penyelenggara acara mengenai keluaran yang diharapkan dari IMA Gunadharma

“Ah, ga usah dipikirin lah yang gitu mah. Anggap aja ini main main meramaikan suasana” ujar kahim GEA , Reza, ketika beliau mengajak kami berdua (aku dan kak Tesya) mengobrol.

Jeng, saya pun hanya tertawa dalam hati, sembari melihat sekeliling. Di kanan ada perwakilan dari Nymphaea yang sudah siap dengan peralatan pengambilan sampelnya. Di depan ada anak IMG yang akan melakukan pemetaan bahaya gempa dan longsor. Belum lagi anak desain produk yang siap membantu packaging untuk unit usaha kerajinan yang ada di desa tersebut. Lalu saya memperhatikan lebih baik dan merasa agak lega setelah melihat seorang perwakilan dari Himatek dan dua orang dari HMFT yang (sepertinya) gabut juga seperti saya dan kak Tesya karena tidak dibebani dengan keluaran apapun.

Sesampainya di lokasi, peserta survei dibagi tiga sesuai dengan kebutuhan (dan untuk kasus orang orang gabut seperti saya, bisa memilih terserah akan pergi kemana) pertama ke situ (saya lupa nama situ nya) untuk pengambilan sampel air, kedua ke tempat pengolahan biogas, dan yang ketiga mengunjungi usaha kecil yang terdapat di desa Tarumajaya. Saya dan kak Tesya memilih yang ketiga karena yang pertama dan kedua segitu gaknyambungnya sama kita. Bisa bisa kita berdua gak mudheng dengan pembicaraan yang akan terjadi.

Desa Tarumajaya merupakan desa kecil dengan mata pencaharian utama berkebun dan memelihara sapi. Hampir tidak ada masyarakat yang memiliki unit usaha semisal produksi ranginang atau sepatu, atau batako, yah semacam itu lah. Hanya ada satu rumah milik seorang pemuka desa yang memiliki usaha berupa permen karamel susu. Lainnya nihil. Kebanyakan penduduk merupakan pekerja yang sangat bergantung pada tuan tanah serta perusahaan pengolah susu murni, KPBS Pangalengan. Berdasarkan cerita si Bapak ini, penduduk desa Tarumajaya bukanlah tipe pedagang. Namun di sisi lain, para penduduk seringkali mengeluh karena merasa ditekan oleh perusahaan yang memonopoli usaha pengolahan susu sapi di desa tersebut.

Setelah mengobrol dengan Bapak tour guide beberapa saat, saya mengambil kesimpulan bahwa penduduk desa ini begitu dimanja dan bergantung pada perusahaan atau pemerintah sementara mereka sendiri kurang mau berusaha sendiri. Bagaimana saya bisa menyimpulkan demikian? Karena si Bapak tour guide sendiri yang bercerita demikian.

Pertama, penduduk diberikan bantuan 200 biogas yang dapat digunankan penduduk sebagai bahan bakar untuk memasak, namun mereka merasa kurang terbantu karena sisa buangan biogas (berupa kotoran sapi yang telah kering) perlu diolah lebih lanjut untuk jadi pupuk. Maka, didirikanlah pabrik pengolahan pupuk kompos di desa tersebut. Namun ternyata, menurut Bapak, pupuk kompos ini tidak laku karena masyarakat lebih suka menggunakan pupuk dari kotoran ayam yang dianggap lebih subur. Karena Desa Tarumajaya merupakan daerah pegunungan, tidak ada peternakan ayam disana sehingga untuk kebutuhan pupuk, masyarakat pun membeli dari luar desa. Sementara itu, pupuk kompos dari kotoran sapi yang mereka produksi jarang digunakan serta kurang laku di pasaran.

Yang kedua mengenai pabrik pengolahan susu. Penduduk sering mengeluh tentang harga yang, menurut mereka, tidak layak terhadap susu sapi yang mereka jual. Padahal setelah saya tanyakan, Pabrik Susu tersebut tidak saja hanya membeli susu para penduduk, namun juga memberikan pakan sapi serta kompensasi biaya perawatan. Jadi bisa dibilang masyarakat, meskipun mereka memiliki sapi secara personal, hanya bertindak seperti pemelihara karena semua biaya ditanggung Pabrik. Maka wajar ketika harga yang mereka terima sedikit lebih murah dari harga di pasaran. Ah sudahlah, saya bukanlah ahli dalam hal seperti diatas maka mari kita beranjak ke kegiatan kami selanjutnya.

Dari rumah yang memiliki usaha susu karamel (dan kami diberikan dua bungkus karamel sebagai oleh oleh, terimakasih ibu ^^) kami beranjak ke pabrik pengolahan limbah biogas dan melihat ke dalam. Tidak seperti  yang awalnya saya bayangkan, tidak bau kotoran sapi sama sekali! Tempatnya rapi namun cukup kotor (mengingat yang diolah adalah kotoran). Secara umum, tidak ada yang bisa saya ceritakan mengenai pabrik ini karena di luar bidang saya (semuanya aja ya saya bilang diluar bidang saya).

Lalu kami ke situ yang… waw. Saya tidak dapat berkata kata lagi. Danaunya sendiri keruh dengan hiasan eceng gondok di banyak titik. Namun mata air tempat keluarnya sumber air danau sangat bening nan cerah selayaknya sepatu Cinderella

Luarbiasa sekali lah airnya ini. Namun karena saya malas lepas sepatu, jadi tidak sempat merasakan kejernihan dan kesejukan airnya. Tidak apa apa, hanya memandangnya pun saya sudah cukup puas dan menenangkan hati.

Setelah beristirahat sebentar di situ, kami semua peserta survey berkumpul di sisi danau untuk melakukan evaluasi. Secara keseluruhan, saya senang ikut acara ini karena membuka mata mengenai pengmas yang ada di himpunan lain serta berkenalan dengan banyak senior lain yang terasa sangat berpengalaman dengan bidangnya masing masing. Terima kasih HMTG GEA atas kesempatan yang telah diberikan pada saya untuk ikut survey ini. Semoga rangkaian acara Geohumanism nya lancar dan sukses hingga akhir serta dapat memberikan angin segar bagi kemajuan Desa Tarumajaya.

—-

Himmah Qudsiyyah

15212036

Anggota Divisi Pengabdian Masyarakat IMA Gunadharma