Rancamanyar Eco-Village : Berharap ‘Pak Hasan’ Hidup Kembali

Perkenalan

Komunitas pengumpul sampah atau yang biasa kita sebut pemulung merupakan sekumpulan orang yang dapat dianggap sebagai komunitas terbuang di kota ini.  Biasanya orang-orang tidak menerima kehadirannya karena dianggap mengganggu. Jumlah pemulung di Kota Bandung kini sekitar 2000 orang, namun kadang kita tidak mengetahui keadaan mereka dan cenderung tidak peduli kepada mereka.

Pemulung sebenarnya sangat berjasa dalam mengolah sampah yang ada di kota Bandung. Sekitar 20% sampah di kota bandung dikelola dengan baik oleh para pemulung sehingga bisa berkurang peredarannya di kota. Dengan begitu sebenarnya jika para pemulung ini bisa diberdayakan dengan baik oleh pemerintah kota atau siapapun yang peduli, mereka dapat menjadi solusi bagi permasalahan yang ada di perkotaan terutama Kota Bandung.

Pertemuan

Hari itu hari Jumat, ketika saya diajak oleh seorang nenek bernama Mak Ncas (Jasmirah) ke rumahnya yang terletak di daerah selatan Kota Bandung. Saya tidak terlalu mengenal Mak Ncas. Saya dikenalkan oleh dosen saya (Bapak Agus Ekomadyo). Mak Ncas biasa duduk di dekat gardu listrik depan gedung arsitektur ITB (saya pikir yang sering beraktifitas di gedung arsitektur tahu siapa itu Mak Ncas). Dia mengajak saya untuk melihat-lihat daerah tempat tinggalnya. Saya sebenarnya bingung kenapa Mak Ncas begitu berharap saya datang ke tempat tinggalnya, padahal saya tidak tahu sama sekali daerah tempat ia tinggal dan tidak mengerti apa-apa. Saya pikir ini hal yang menarik dan saya katakan ‘ya’.

Mak Ncas adalah seorang pemulung. Umurnya sudah sangat tua dan keadaan fisiknya sudah sangat tidak baik. Ia biasa mengambil sampah-sampah yang telah dipilahnya untuk dibawa ke tempat pengumpulan pusat yang berada di Jalan Tamansari, posisinya tepat di ujung pertigaan jalan Ganesha. Hampir semua keluarganya merupakan pemulung. Menantunya, Pak Agus, merupakan bandar sampah di daerah Cihapit. Cucunya bekerja bersama Pak Agus di Cihapit.

Sudah dari sekitar tahun 70-an, ketika itu masih berada di daerah Jatidua, Mak Ncas bersama komunitasnya mengambil seluruh sampah yang ada di kota Bandung untuk kemudian diolah dan dijadikan uang. Uang yang dihasilkan memang tidak terlalu banyak namun masih bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Keadaannya saat itu cukup baik di Jatidua, namun pembangunan wilayah kota yang semakin meningkat membuat Mak Ncas dan teman-temannya harus meninggalkan tempat itu dan berpindah ke tempat baru. Sampai akhirnya Mak Ncas dan teman-temannya harus pindah ke daerah Rancamanyar.

Ya..hari ini saya diajak ke tempat tinggalnya tersebut, Rancamanyar. Saya pergi menggunakan angkutan kota bersama Mak Ncas dan kadiv humas saya, Sauda. Daerahnya sangat jauh, dibutuhkan waktu sekitar satu jam lebih untuk bisa sampai kesana dengan kendaraan umum dari ITB. Panasnya udara saat itu tidak mengurungkan niat kami untuk bisa melihat rumah Mak Ncas. Saya lihat dibangku paling pojok, Mak Ncas sangat bersemangat untuk mengajak kami ke Rancamanyar. Dia selalu tersenyum ketika saya bertatapan wajah dengannya.

Setelah sekitar satu jam akhirnya kami sampai di Rancamanyar. Mak Ncas mengajak saya untuk langsung datang ke rumahnya. Selama di perjalanan banyak orang melihat saya dan tersenyum. Mereka melihat saya seperti orang asing. Saya seolah seperti malaikat yang datang ke kampung mereka untuk membawa sebuah wahyu sebagai petunjuk menuju kekehidupan yang lebih baik, atau mungkin mereka mengganggap saya pegawai kelurahan yang datang ke kampung mereka untuk melakukan sensus penduduk? Saya sendiri tidak tahu.

Setelah beberapa menit berjalan kaki akhirnya saya sampai di rumah Mak Ncas. Rumahnya cukup bagus, bertingkat, dan ada listrik yang masuk kedalam rumahnya (rumah yang ada disekitarnya tidak semua mendapat listrik). Rumahnya paling bagus di antara yang lainnya, mungkin karena ia bandarnya. Begitu saya masuk, saya di sambut oleh Pak Agus yang merupakan menantu dari Mak Ncas. Sambutannya kepada saya begitu hangat, seperti menyambut seorang kepala desa yang datang untuk mendengarkan keluhan warga desanya. Kemudian Pak Agus memanggil adiknya yang tinggal serumah dengannya (saya lupa namanya, sebut saja Indah) untuk ikut duduk bersama dengan saya. Sambil bersalaman dengan Saya, Bu Indah berkata kepada Pak Agus , “Ini yang dari ITB itu, a?”. Pak Agus menjawab, “Iya..iya..”. Saya jadi bingung, saya dianggap sebagai perwakilan dari ITB, padahal saya hanya mahasiswa yang diajak ‘jalan-jalan’ oleh Mak Ncas untuk melihat-lihat kampungnya.

Lama kami berbasa-basi, hingga akhirnya Pak Agus menceritakan tentang kampungnya saat ini.

“Keadaannya sekarang sangat parah, Kang”,Pak Agus coba memulai ceritanya.

Tahun 80’an kampung ini baru saja berdiri, sebagai perpindahan dari tempat yang lama yaitu di Jatidua. Ini merupakan solusi yang diberikan oleh PPLH saat para pemulung meminta bantuan kepada PPLH karena rumah-rumah mereka yang berada di Jatidua baru saja digusur. Adalah Prof.Hasan Poerbo yang merupakan guru besar Arsitektur ITB sebagai motor dari gerakan ini, gerakan pemberdayaan komunitas pemulung (saat itu Prof Hasan Poerbo adalah Ketua Majelis Penelitian PPLH-ITB). Pada awal berdirinya banyak para pemulung yang tidak mau tinggal disana. Bayangkan saja kondisinya saat ini pun cukup terisolir dari pembangunan disekelilingnya, apalagi saat tahun 80’an. Pak Agus bercerita bahwa saat itu tidak ada listrik, daerahnya gelap, dan jauh dari manapun. Namun dengan pendekatan yang dilakukan Prof. Hasan Poerbo akhirnya para pemulung tersebut mau pindah ke Rancamnyar.

“Pada awalnya kami tidak terlau percaya kepada Pak Hasan, solusinya kami anggap bisa menurunkan pendapatan para pemulung”, kata Pak Agus

“Sampai akhirnya kami mengganggap Pak Hasan sebagai keluarga kami”, lanjutnya

“Beliau membuat sebuah acara perkawinan masal di kampung ini, warga pun dibuat senang. Acara perkawinan masal itulah yang membuat kita jadi percaya dengan niat baik Pak Hasan. Belum pernah saya bertemu orang sebaik dia. Anak-anak di sini disekolahkan olehnya hingga lulus SD. Yah..kalo diinget-inget lagi jasa Pak Hasan pada saat itu saya ga tau harus membalasnya dengan apa, Jang”, jelasnya.

Badan saya sedikit merinding mendengarnya. Cerita tentang Prof.Hasan Poerbo sebenarnya pernah saya dengar juga dari seorang alumni Teknik Sipil ITB angkatan 70’an (kalau tidak salah) bernama Pak Moko, namun baru kali ini badan saya merinding mendengarnya. Sepertinya bagi masyarakat Rancamanyar, Prof.Hasan Poerbo merupakan malaikat yang memberikan cahaya untuk kehidupan mereka. Pada saat itu warga hidup sejahtera dan bisa beraktifitas dengan baik. Mungkin ini adalah keberhasilan dari Prof.Hasan Poerbo yang menyelesaikan masalah dengan cara “action research’’-nya sehingga keadan masyarakat bisa berubah, ditambah dengan pemikirannya tentang pembangunan partisipatif yang beliau terapkan untuk pembangunan kampung ini.

Tidak hanya itu, Bu Indah juga menceritakan tentang mahasiswa pada zaman itu

“Saya waktu itu masih umur 10 tahun, mahasiswa yang banyak mengajarkan saya. Jumlahnya ada banyak sampai puluhan. Dia ajarin saya berhitung dan ngajak saya main-main”, jelasnya

Saya menjadi malu mendengar ceritanya. Namun obrolan kami selanjutnya menjadi lebih banyak membahas Prof.Hasan Poerbo. Panjang kami bercerita tentang Prof.Hasan Poerbo. Pak Agus pun melanjutkan ceritanya.

“Tapi setelah Pak Hasan meninggal sekitar tahun 90’an keadaannya berubah, Jang”, Jelas Pak Agus melanjutkan ceritanya.

“Berita Pak Hasan meninggal sampai kepada kami, kami pun satu kampung menggelar do’a bersama”, kata Pak Agus dengan nada yang sedikit turun.

Setelah Pak Hasan meninggal Rancamanyar dikelola oleh yayasan agar bisa terus berjalan aktifitasnya. Yayasannya pun berganti-ganti, saya lupa namanya apa saja, pada saat itu Pak Agus banyak menceritakan orang yang tidak saya kenal, namun ia mengganggap saya tahu dengan orang-orang tersebut karena mungkin sebagai perwakilan dari ITB saya seharusnya tahu dengan keadaan kampung yang dulu dikembangkannya. Hingga akhirnya Pak Agus sadar, bahwa saya bukan siapa-siapa dan sebenarnya saya hanya mahasiswa yang diajak berjalan-jalan oleh seorang nenek tua.

“Banyak perilaku yang tidak mengenakkan datang saat kampung ini dikelola oleh yayasan, walaupun beberapa ada yang memperlakukan kami dengan baik. Ada yang memungut uang, namun uangnya tidak jelas dikemanakan. Ada juga yang menagih uang bulanan namun dengan cara yang tidak mengenakkan”, jelas Pak Agus.

“Melihat keadaan ini saya jadi menginginkan Pak Hasan hidup kembali. Biar masyarakat sini bisa sejahtera kayak dulu lagi”, lanjut Pak Agus bercerita.

Badan saya semakin merinding. Yang saya pikirkan bukan tentang Prof. Hasan yang mereka inginkan untuk hidup kembali, tetapi saya melihat bahwa mereka membutuhkan sosok seperti Prof.Hasan yang bisa mengubah hidup mereka menjadi lebih baik yang mungkin sekarang sudah jarang ada. Atau mereka juga mendambakan sosok mahasiswa seperti zaman dahulu yang dekat dengan masyarakat.

Saya sempat memikirkan solusi apa yang bisa saya berikan untuk kampung ini. Saya coba menggali apa sebenarnya kebutuhan masyarakat Rancamanyar ini. Pak Agus pun bercerita banyak, hingga akhirnya ia menyebutkan kebutuhan utama mereka.

“Masyarakat disini sangat membutuhkan yayasan yang bisa membina kita agar bisa nyaman dalam beraktifitas”, kata Pak Agus

Persoalannya cukup mendasar. Warga disana belum bisa mengelola wilayahnya sendiri dengan baik. Sebuah koperasi pernah didirikan disana namun tidak bertahan lama setelah yayasan yang menaunginya saat itu tidak mengurus kampung itu lagi (ia bilang koperasi itu untuk mempermudah warga meminjam uang dan memenuhi kebutuhan). Untuk sekedar memperbaiki masjid mereka yang rusak pun mereka kesulitan untuk mengurus pe-renovasian-nya. Mereka sudah coba buat proposal, namun kesulitan untuk mengurusnya ke kelurahan.

“Pernah saya coba uruskan ke ITB untuk bisa membina daerah ini lagi, namun tidak terlalu ditanggapi” jelas Pak Agus

“Sepertinya Pak Hasan tidak mewariskan pembinaan kampung ini setelah ia meninggal”, lanjutnya bercerita

Setelah berbincang begitu lama Bu Indah pun mengajak saya dan Suada untuk berkeliling di kampungnya. Daerahnya agak terisolir, posisi kampungnya dikelilingi oleh hutan dan agak terpisah dengan pembangunan di sekelilingnya. Suasananya berbeda dengan foto yang saya lihat di sebuah artikel yang bercerita tentang kampung ini. Yang saya lihat pada foto tersebut, daerahnya hijau, setiap rumah menanam tanaman sebagai hiasan dihalamannya, di sekeliling rumah terdapat kebun jagung dan ada banyak kambing yang berkeliaran, rumah-rumah tersusun rapih, warga banyak beraktifitas diluar rumah, ada yang sedang mengolah sampah, ada yang sedang beraktifitas dimasjid, yang saya lihat di foto itu sepertinya kampung ini bisa menghidupi kampungnya secara mandiri tanpa bergantung pada daerah sekelilingnya. Namun ceritanya berbeda saat saya melihat langsung kesana, daerahnya gersang, ketika baru masuk saya disambut oleh sebuah rumah rubuh (katanya itu rubuh saat terjadi gempa), rumah yang ada tampak tidak terawat, tidak banyak aktifitas disana, yang ada hanya anak-anak yang bermain di tengah jalan.

Setelah lama berjalan keliling kampung tersebut kami pun kembali ke rumah Mak Ncas. Sesampainya di rumah, kami ditawari makan oleh Pak Agus. Saya menjadi tidak enak karena merasa merepotkan Pak Agus. Ternyata Pak Agus sudah menyiapkan kami makan dari sebelum kami datang. Sepertinya Pak Agus benar-benar menganggap kami sebagai utusan dari ITB yang mau membina kembali kampung ini. Sesekali ia bercerita kembali tentang kampung ini. Katanya sekitar seminggu lagi akan ada yayasan yang berminat untuk menaungi kampung ini. Ia meminta saya untuk datang dan ikut dalam diskusi yang akan dilakukan oleh yayasan tersebut dengan Pak Agus.

“ Kami kadang tidak terlalu mengerti dengan perjanjiannya. Kalau ada waktu mungkin bisa ikut dengan kami untuk ngobrol bareng yayasan itu”, kata Pak Agus.

Saya hanya bisa bilang ‘insyaallah’.

Saat itu kegiatan akademik cukup padat dan Rancamanyar bagi saya cukup jauh, sehingga saat yayasan itu datang saya tidak bisa ikut bersama warga untuk membicarakan hal itu. Sampai saat ini saya tidak tahu keadaan Rancamanyar selanjutnya. Saya pernah menceritakan ini kepada teman-teman ataupun dosen. Kebanyakan menanggapinya dengan berkata “Harus ada planning yang matang kalau mau memperbaiki, pendekatannya pun tidak mudah”. Memang sulit sepertinya menyelesaikan daerah tersebut, namun saya yakin ‘Bisa’.

Sesekali saya masih sering lihat Mak Ncas di depan gardu listrik gedung arsitektur. Kadang saya tidak enak untuk menyapanya, saya takut ia terlalu berharap dan menggap saya hanya memberi janji palsu. Namun jika bertemu Mak Ncas selalu menyapa saya dengan tersenyum sambil berkata, “Kapan datang lagi ke Rancamanyar?”. Saya hanya tersenyum dan berkata “Kalau sempat saya kesana, bu”. Saya tidak tahu seberapa hebat Prof.Hasan bisa membangun Rancamanyar saat itu dan seberapa dekata mahasiswa saat itu dengan masyarakat, namun yang pasti masyarakat disana merindukan sosok tersebut. (Hilman)

Pustaka

http://iplbi.or.id/2013/03/kampung-ekologis-pemulung-di-rancamanyar/