STKAday 5 (The Meeting of Minds: ARSITEKTUR NUSANTARA RECONSIDERED)

Preposisi

Dari sekian banyak terminologi atau konsep yang disirkulasikan dalam wacana arsitektur di Indonesia, baik di kalangan akademisi maupun di kalangan profesi, yang paling bersifat problematik dan mengundang kontroversi adalah konsep tentang Arsitektur Nusantara. Apa yang dapat dijadikan batasan untuk menafsirkan dan memberi makna pada konsep Arsitektur Nusantara ini? Apakah dimensi historis atau waktu? Dimensi ruang atau geografis? Dimensi sosio-kultural? Dimensi legal-politis? Ataukah dimensi formal-tektonik?

Sebagai sebuah konsep, apakah Arsitektur Nusantara merujuk pada realitas empirik yang mewujud (tangible), atau pada idealism utopis yang nir-wujud (intangible)? Dapatkah konsep ini didekati dari sudut pandang keilmiahan (scientific) semata? Ataukah juga harus diimbangi dengan muatan emosi, sentimen kebangsaan, atau romantisisme budaya masa lampau? Prinsip-prinsip etik apa yang perlu dijunjung tinggi ketika seseorang berhadapan dengan Arsitektur Nusantara? Layakkah Arsitektur Nusantara dijadikan sebagai suatu mashab (school of thought) dalam penelitian, atau sumber inspirasi dalam desain arsitektur kontemporer? Institusi mana yang memiliki otoritas untuk mengkonfirmasi keabsahan Arsitektur Nusantara sebagai bidang studi atau preseden desain, yang layak diadopsi dalam pengembangan tubuh pengetahuan (body of knowledge) arsitektur di Indonesia?

Kehadiran konsep Arsitektur Nusantara dalam wacana arsitektur di Indonesia selama ini telah direspon oleh komunitas ilmiah dan profesi arsitektur di Indonesia secara beragam, sehingga terjadi polarisasi pandangan dan pendapat yang secara garis besar dapat dibedakan menjadi empat kelompok, yakni:

  1. Kelompok yang menyambut baik dan menaruh harapan besar pada konsep Arsitektur Nusantara. Mereka dengan tekun mempelajari fenomena arsitektur lokal dan memberinya label sebagai Arsitektur Nusantara, yaitu warisan budaya arsitektur nenek moyang yang sangat bernilai, yang perlu dipelihara dan dikembangkan sebagai landasan untuk membangun identitas arsitektur Indonesia yang unik, dan memperjuangkan kesetaraan terhadap wacana arsitektur Barat yang cenderung mendominasi.
  2. Kelompok yang bersifat skeptis terhadap konsep Arsitektur Nusantara, meliputi spektrum pandangan yang cukup lebar. Pada titik ekstrim mereka melihat fenomena arsitektur lokal sebagai produk budaya masa lalu yang tidak memiliki relevansi lagi dengan tantangan kehidupan di masa kini, karena itu hanya layak untuk dijadikan obyek kajian historis semata.
  3. Kelompok yang bersifat pragmatis terhadap konsep Arsitektur Nusantara, terutama terwakili oleh para praktisi profesional dan penggiat industri dalam arsitektur. Mereka dengan senang hati merangkul berbagai fenomena arsitektur lokal sebagai sumber inspirasi dalam pengembangan desain arsitektur dan produk industri kontemporer, dan menjadikan Arsitektur Nusantara sebagai strategi diferensiasi atau kiat pemasaran yang mampu membuka lebar peluang pasar, perolehan pekerjaan, dan peningkatan nilai tambah finansial.
  4. Kelompok yang bersifat apatis atau tak perduli (indifference) terhadap konsep Arsitektur Nusantara. Bagi mereka konsep Arsitektur Nusantara hanya sekedar gagasan hampa, yang tidak terlalu perlu ditanggapi secara serius.

Polarisasi yang terjadi tampaknya berkembang tanpa ada kekuatan yang berusaha menengahi, apalagi mengendalikannya, sehingga cenderung membingungkan sebagian besar komunitas arsitektur di tanah air, terutama dosen and mahasiswa di perguruan tinggi, apalagi ketika masing-masing kelompok secara informal memiliki figur-figur yang ditokohkan serta institusi yang secara moral dan finansial mendukungnya. Dosen kebingungan, apa dan bagaimana mengajarkan Arsitektur Nusantara yang pada umumnya tercantum dalam struktur kurikulum resmi. Kebingungan dosen otomatis tertular kepada mahasiswanya. Praktisi juga kebingungan atau ikut membuat kebingungan. Pencampur-adukan terminologi dan pemaknaan dari istilah Arsitektur Nusantara, Arsitektur Indonesia, Arsitektur Tradisional, Arsitektur Vernakular, Arsitektur Lokal, menjadi salah satu bukti dari kondisi kerancuan konseptual ini.

Forum diskusi meja bundar STKADay 5 diselenggarakan dengan maksud untuk merenungkan kembali atau meninjau ulang konsep Arsitektur Nusantara, agar dapat didudukan kembali dalam kerangka paradigmatik yang jelas dan mudah dipahami, bila tidak mungkin disepakati, oleh seluruh konstituen yang berkepentingan dengan konsep ini. Akan sangat ideal apabila dapat diikrarkan sebuah manifesto tentang Arsitektur Nusantara yang bersifat reflektif, yang dapat disempurnakan dari waktu ke waktu, sebagai acuan normatif dan etis, dalam mengoperasionalisasikan konsep Arsitektur Nusantara, baik dalam dunia akademik maupun dunia praktik keprofesian arsitektur.

Beberapa pertanyaan dapat diajukan untuk memulai diskusi yang kritis namun produktif:

  1. Dalam kerangka paradigmatik apa konsep Arsitektur Nusantara akan didudukan? Pelestarian kebudayaan nasional? Politik identitas bangsa? Pengembangan ilmu pengetahuan? Atau penyelesaian masalah dan peningkatan kualitas lingkungan?
  2. Visi dan misi apa yang selayaknya dibawakan oleh konsep Arsitektur Nusantara?
  3. Batasan-batasan apa yang perlu dilekatkan pada konsep Arsitektur Nusantara, agar interpretasinya tidak terlalu ketat, tapi juga tidak menjadi liar?
  4. Bagaimana merumuskan Arsitektur Nusantara sebagai sebuah konsep teoritik yang mudah untuk dioperasionalisasikan oleh komunitas akademik dan komunitas praktisi arsitektur?
  5. Bagaimana konsep dan teori Arsitektur Nusantara harus dikembangkan oleh para akademisi dan diterapkan oleh para praktisi keprofesian arsitektur, agar mampu memberi dampak yang positif dan produktif bagi perkembangan pengetahuan dan khasanah karya arsitektur di Indonesia?
  6. Jenis insentif dan disinsentif apa yang dapat diterapkan untuk memajukan studi, pelestarian, dan pengembangan Arsitektur Nusantara di Indonesia?

Forum diskusi meja bundar STKADay 5 diharapkan dapat menjadi ajang temu pikir (the meeting of minds) bagi akademisi dan praktisi keprofesian arsitektur yang memiliki keperdulian terhadap nasib perkembangan arsitektur di Indonesia pada umumnya, dan terhadap tertib logika berpikir tentang Arsitektur Nusantara pada khususnya. Peristiwa budaya ini bisa menjadi pertempuran gagasan yang membawa gaung keras sehingga berdampak signifikan pada tingkat nasional, atau hanya sekadar lemparan opini yang menimbulkan riak kecil di permukaan air kolam. Tingkat partisipasi dan komitmen dari para pemangku kepentingan atau konstituenlah yang nanti akan menentukan. Sungguh, kesempatan ini terlalu berharga untuk dilewatkan oleh mereka yang perduli dan bernyali.

Bandung, 17 Februari 2020

Iwan Sudradjat

 

Pemrasaran

Imran bin Tajudeen

Dr. Imran bin Tajudeen researches architectural encounters in Singapore and Southeast Asia across the longue durée, first in their intersections with colonial practices, modern interventions, and colonial and nationalist representational tropes in heritage representation, and second through historiographical questions on Southeast Asia’s Indic and Islamic architecture from a vernacular architectural perspective. He was a postdoctoral fellow at MIT’s AKPIA (2009-2010) and the IIAS in Leiden (2010-2011). He was named Most Promising New Civil Society Advocate in 2015 for his active work on urban heritage criticism. He is co-editor (with Chang Jiat Hwee) of Southeast Asia’s Modern Architecture: Questions in Translation, Epistemology and Power (2018). He is currently working on a monograph that extends his doctoral dissertation (NUS, 2009; ICAS Book Prize for Best PhD, Social Sciences, 2011) on the local/regional and cosmopolitan in the vernacular urban heritage of maritime Southeast Asia.

Diah A. Purwaningrum

Diah A. Purwaningrum is a PhD candidate in the Faculty of Architecture, Building and Planning at the University of Melbourne. Her research interests include architectural identity, architecture and politics, architectural design, and design approach and method. She is currently working on her dissertation, focusing on contemporary Nusantaran Architecture from the scholarly and designerly perspectives. She attained a Bachelor’s Degree (2010) in architecture, and a Master’s Degree (2012) in architectural design, both from Institut Teknologi Bandung (ITB) in Indonesia. She is a Lecturer in the Architecture Department of ITB joining the Architectural Design Research Group, and currently a Tutor on subjects related to design methods and approaches at The University of Melbourne. She is also a member of the Indonesian Institute of Architects (IAI) and the Institute of Indonesian Architecture History (LSAI).

 

Pembahas

Revianto B. Santoso

Lahir dan tinggal di Yogyakarta, saat ini mengajar di Jurusan Arsitektur Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, aktif di Dewan Kebudayaan Yogyakarta dan Tim Ahli Cagar Budaya Yogyakarta. Selain mengajar, ia juga menulis dan menerjemahkan buku dengan tema arsitektur dan kebudayaan pada umumnya, serta aktif berpraktik sebagai arsitek. Ia menyelesaikan pendidikan di Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Gadjah Mada, School of Architecture McGill University Montreal, dan Jurusan Arsitektur Insitut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.

Yori Antar

Lulus dari teknik Arsitektur UI pada tahun 1988. Sekarang menjadi principal architect di Han Awal & Partners Architects. Yori Antar adalah salah satu inisiator forum Arsitek Muda Indonesia (AMI) yang membawa pengaruh pada pergeseran arah arsitektur kontemporer di Indonesia. Yori Antar memiliki keyakinan kuat bahwa kunci untuk memperkaya arsitektur Indonesia adalah dengan belajar dari tradisi. Ia memberikan perhatian dan kepedulian terhadap Arsitektur Nusantara. Keyakinan ini ia wujudkan dalam gerakan Rumah Asuh yang bertujuan untuk melestarikan dan membangun kembali rumah-rumah tradisional serta mengembalikan ‘DNA’ Arsitektur Indonesia.

Yu Sing

Lulus S1 dari teknik arsitektur ITB tahun 1999. Tahun 2008 mendirikan studio akanoma (singkatan dari akar anomali). Akar anomali menegaskan komitmen studio untuk senantiasa berakar kepada konteks budaya, potensi, dan persoalan di Indonesia. Empat pendekatan desain Studio Akanoma diantaranya: 1) Mengupayakan arsitektur untuk semua; 2) Merekontekstualisasi Arsitektur Nusantara; 3) Membangun interdependensi antara alam dan budaya dengan arsitektur; serta 4) Membantu wisata ekologis bersama warga lokal. Studio Akanoma telah memenangkan berbagai sayembara arsitektur di tingkat nasional maupun Asia Pasifik, seperti Pemenang Green Leadership Award dari BCI Asia (2016); Pemenang ke-3 Citation Of Excellent Architectural Design Reflecting East Asian Identity dari ASEAN Committee on Culture and Information (2015); Pemenang 3 Sayembara Asia Pasifik FuturArc Prize 2010.

 

Moderator

Indah Widiastuti

Staf pengajar Institut Teknologi Bandung (ITB), mengajar di Program Studi Arsitektur dan Studi Pembangunan, yang mengkhususkan diri dalam teori arsitektur, Arsitektur Asia Tenggara dan India Selatan, Etnografi dalam Arsitektur. Menyelesaikan gelar PhD di Anna University Chennai. Sebelumnya, ia fokus pada studi arsitektur wacana dan wacana sehubungan dengan arsitektur Warisan, Studi Budaya, dan Kompleksitas dan Pergeseran Paradigma Ilmiah. Kekhawatiran utama pada topik PhDnya adalah hubungan arsitektur antara Indonesia dan India. Indah adalah anggota dari Ikatan Sejarawan Arsitektur Indonesia (LSAI), Asian Scholarship Foundation dan (ASF) Heritage Society of Bandung (Bandung Heritage) dan Asosiasi Peneliti untuk Perilaku Lingkungan (IPLBI).

Mahatmanto

Menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik dan Magister Teknik Arsitektur di Institut Teknologi Bandung. Mengajar Sejarah dan Teori Arsitektur di Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta. Meminati Kajian Budaya dan pernah menjadi anggota Board of Directors Indonesian Visual Art Archives (IVAA).

 

Undangan Menulis Proposisi Esai/Naskah Singkat Seputar Arsitektur Nusantara

Menyadari besarnya dukungan dan kritik yang selama ini beredar di berbagai kalangan mengenai Arsitektur Nusantara, kami juga mengundang tulisan berupa esai/naskah singkat terkait wacana Arsitektur Nusantara. Esai ditulis bebas antara 1000-1500 kata, dan dikirimkan kepada panitia paling lambat pada tanggal 31 Juli 2020, ke email ketua panitia: indahwidiastuti71@gmail.com. Motif undangan menulis esai/naskah singkat ini tidak dimaksudkan sebagai ajang publikasi, namun untuk menggali pemikiran-pemikiran bernas yang mampu menanggapi kehadiran wacana Arsitektur Nusantara, secara produktif maupun kritis, baik yang mendukung maupun mengkritisi. Esai/naskah singkat yang diterima akan diseleksi oleh komunitas KK STKA (Kelompok Keahlian Sejarah, Teori dan Kritik Arsitektur), dan tulisan terseleksi akan dipublikasikan bersama dengan terbitan buku Rekaman Diskusi STKAday5. Para peserta yang mengirimkan esai/naskah singkat akan dikategorikan sebagai peserta yang mendapat prioritas untuk memberi pendapat selama jalannya diskusi meja bundar. Prioritas ini diberikan sebagai penghargaan atas kesungguhan peserta untuk berpartisipasi dalam diskusi lewat tulisan yang diterima.

 

Tata Tertib Diskusi

Pemrasaran

Pemrasaran adalah dua orang pakar (Imran Tajudeen dan Dyah Asih Purwaningrum) yang akan menyampaikan materinya.  Materi pemrasaran dalam diskusi ini tidak dimaksudkan sebagai kuliah lengkap dan mendalam – cukup garis besar, aspek mendasar, dan keunikan reflektifnya terhadap arsitektur maupun perencanaan lingkungan binaan secara umum. Masing-masing pemrasaran akan diberi waktu maksimum 30 menit untuk memaparkan materinya.

Demi kelancaran diskusi pemrasaran diharapkan dapat membuat dan menyerahkan sebuah esai 2000-2500 kata. MS Word, dilengkapi biografi singkat (tidak lebih dari 200 kata). Materi ini akan dimuat pada buklet acara dan buku rekaman diskusi yang akan diterbitkan oleh KK STKA dan ITB. Pemrasaran diharapkan mengirimkan esai kepada penyelenggara, dilengkapi dengan biografi singkat  ke alamat email indahwidiastuti71@gmail.com sebelum tanggal 31 Juli 2020.

Peserta Diskusi

Para peserta adalah para arsitek dan sarjana arsitektur pemerhati isu sosial, budaya dan filsafati yang akan secara partisipatif memanfaatkan paparan tersebut sebagai pancingan untuk berdiskusi mengenai hubungan tema diskusi meja bundar. Peserta acara diskusi terbuka STKAday diharapkan berpartisipasi aktif dalam diskusi.  Diskusi terbuka  ini diharapkan menjadi ajang berbagi pikiran dan sumbang pandangan di antara para peminat dan pemerhati Arsitektur Nusantara.

Peserta diskusi terbagi menjadi dua kelompok:

  1. Kelompok 1 adalah peserta diskusi yang memiliki proposisi dan menyerahkan kepada panitia dalam bentuk esai mengenai topik diskusi . Peserta pada kelompok ini akan diberi prioritas untuk mengemukakan pandangannya pada saat diskusi.
  2. Kelompok 2 adalah peserta diskusi yang sekadar hadir untuk mengikuti jalannya diskusi. Peserta pada kategori kelompok ini akan memperoleh kesempatan bertanya setelah kelompok 1 mendapatkan kesempatan.

Penyerahan esai sudah dilakukan pada  tanggal 31 Juli 2020.

Pembahas

Pembahas adalah tiga orang pendiskusi, yaitu Revianto B. Santoso, Yori Antar, dan Yu Sing yang dihadirkan untuk menanggapi paparan yang diberikan oleh pemapar mengundang reaksi peserta, serta menyampaikan refleksi dan kesimpulan dari diskusi terbuka ini.

 

Tempat dan Jadwal Acara

Sabtu, 26 September 2020, 09.00-18.00 WIB

Ruang Galeri, Gedung Labtek IXB Arsitektur, Institut Teknologi Bandung

Jl. Ganesha No. 10 Kota Bandung

08.00 – 09.00 Pendaftaran
09.00 – 09.30 Sambutan Ketua Kelompok Keahlian Sejarah Teori dan Kritik Arsitektur

Sambutan dan Pembukaan oleh Dekan SAPPK

09.30-10.30 Paparan 1.

DIAH ASIH PURWANINGRUM

10.30-11.15 Pembahasan : Revianto B Santoso, Yori Antar, Yu Sing
11.15-12.45 Diskusi 1 (Moderator: Indah Widiastuti dan Mahatmanto)
12.45 -13.30 ISHOMA
13.30-14.30 Paparan 2.

IMRAN BIN TAJUDEEN

14.30-15.15 Pembahasan: Revianto B. Santoso, Yori Antar, Yu Sing
15.15-16.45 Diskusi 2 (Moderator: Indah Widiastuti dan Mahatmanto)
16.45-17.30 Ulasan Akhir dan Kesimpulan dari pembahas

Revianto B. Santoso, Yori Antar, Yu Sing

17.30- selesai Penutup

Ketua Kelompok Kelompok Keahlian Sejarah Teori dan Kritik Arsitektur

Acara Bebas

Catatan: sepanjang acara disediakan coffee corner yang menyajikan suguhan kopi bermutu oleh Bapak Ir. Budi Rijanto Surjosutrisno, DEA. dari Kopilaga.

 

Pendaftaran

WA: +62821-2774-5765 (Ibu Indri)

Surel: kk.stka@gmail.com

Berita Terkait